Jumat, 11 Januari 2019
Sabtu, 15 Desember 2018
Coching Clinic Verifikasi Teknis Perhutanan Sosial Tahap III Provinsi Sulawesi Tenggara
Coching Clinic Verifikasi Teknis Perhutanan Sosial Tahap III Provinsi Sulawesi Tenggara
Pembukaan Coching Clinic
Mengawali kegiatan Coching Clinic dalam rangka Verifikasi Teknis Perhutanan Sosial Tahap III Sultra, Pembukaan acara kegiatan oleh Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Perhutanan Sosial dari Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara. Peserta terdiri dari Team Vertek Tahap III Sultra, termasuk anggota Kelompok Kerja (Pokja), beberapa hadir dari anggota yang kurang lebih 50 anggota.Plaza Inn Kendari
Pertemuan Coching Clinic berlansung di Plaza Inn Kendari pada hari Selasa/11 Desember 2018 pada malam hari dimulai pukul 18.30 Wita. Provinsi Sulawesi Tenggara dengan target 32 ribu Ha dan yang telah diverifikasi teknis kurang lebih luasan dikisaran 50 - 60 ribu Ha, tersebut 58 Ha dan pada perencanaan Verifikasi Teknis selanjutnya pada luasan 16 ribu Ha, sehingga telah mencapai 74 H. Realiasasi atau pencapaian dianggap telah maksimal, termasuk usulan baru terdiri dari 40 Kelompok Tani Hutan untuk difasilitasi
Pengantar Coching Clinic
Selanjutnya pengantar Coching Clinic berupa perihal Berita Acara (BA) dengan menambahkan keterangan gender 'issu gender' sekaligus penambahan tenaga dari KPH dan pendamping. Mengawali Verifikasi teknis pada usulan pasca tanpa IUP yang berita acara merupakan dasar penerbitan IUP termasuk daftar nama Kelompok Tani Hutan yang terangkum dalam SHP serta peta lokasi usulan skema perhutanan sosial.
Sambutan
Pernyataan dari pihak Pejabat Pembuat Komitmen bahwa melayani 60 divisi dengan pemahaman anggaran terkait SPJ serta penyampaian terkait pengajuan usulan Fasilitasi Perhutanan Sosial untuk dalam perencanaan tahun depan, 2019. Sedangkan pemantapan team vertek oleh T2PS, percepatan perhutanan sosial melalui Surat Tugas terkait pelaksanaan vertek serta jumlah personil atau tenaga yang akan melaksanakan kegiatan tersebut. Menambahkan kembali agar 'update' tingkat nasional bahwa target luasan perhutanan sosial target nasional pada kisaran 2..2 juta ha dari rencana 2,5 juta Ha sampai pada tahap akhir bulan Desember tahun 2018.
Perhutanan Sosial
Perhutanan Nasional merupakan program strategis nasional dengan luasan 12,7 juta Ha yang.dalam realisasinya 'meminta' pengurangan luasan. Melalui 5 skema perhutanan sosial mewujudkan hutan lestari , rakyat sejahtera. Diakhir acara kegiatan pembukaan kegiatan verifikasi teknis menghasilkan rumusan akhir. Sedangkan hasil verifikasi teknis perhutanan sosial dengan tembusan pada 5 (lima) pihak-pihak yang terkait dalam proses teknis. Salam 5 jari, BPSKL Wil. Sulawesi.
Dokumentasi : BPSKL Wil. Sulawesi
Senin, 12 November 2018
Forester Festival 2018
FORESTER FESTIVAL IKA KEHUTANAN UNHAS
Forester Festival
Telah berlangsung ajang Forester Festival untuk yang pertama kali, yang direncanakan akan berlangsung setiap tahun atau sebagai agenda tahunan IKA Kehutanan Unhas. Forester Festival 2018 - Reuni Tahunan IKA Kehutanan Unhas, berlangsung pada tanggal 9 – 11 November 2018, baru-baru ini. Kegiatan antara lain Seminar Alumni ‘Peran Rimbawan Dalam Pembangunan Kehutanan Indonesia’, Ramah Tamah IKA Kehutanan Unhas, Forester Back To Campus (Fun Walk, Bedah Buku, Bazaar dan Panggung Hiburan), Forester Camp (Gala Dinner dan Forester Night, Senam Pagi, Cross Country, Baksos dan Outbound)
Pagelaran Forester Festival 2018
Ada 3 lokasi pagelaran Forester Festival 2018,
Lokasi I, di Rujab Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 9 November
2018. Lokasi II, di Kampus Unhas Tamalanrea Makassar atau yang lebih dikenal
dengan nama Kampus Merah pada tanggal 10 November 2018. Selanjutnya Lokasi III,
di Hutan Pendidikan Unhas Bengo-Bengo Kab. Maros Provinsi Sulawesi Selatan. Forester
Festival 2018 ini, dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr,
IPU sebagai Ketua Umum IKA Kehutanan Unhas.
Forester Festival adalah ajang kreatif yang
diinisiasi dengan brilliant!!!Momentum pertemuan dan silaturahim alumni IKA
Kehutanan Unhas dan civitas akademika Fahutan Unhas, menjawab panjang penantian
dan dahaga rindu para alumni terhadap sahabat, kerabat, bahkan dengan fakultas
serta semua sudut ruang kampusnya … so don’t miss, itu jadilah bagian dari sejarah pelaksanaan FF Pertama… juga
Bagian dari kebangkitan persatuan dan
gelora KORPS Rimbawan Unhas… COS We Are Forester, ungkap Jay Syamsu
Rijal yang juga sebagai penulis buku Badik Berbunga di Negeri Para Samurai di
kegiatan Bedah Buku pada Forester Festival 2018. Berbarengan dikesempatan ini pula bedah buku Kilimanjaro, Menapak Atap Afrika oleh Rahmat Hadi Forester Angkatan 1990. Salam Rimba👌.
Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi/Panitia Pelaksana FF 2018
Senin, 15 Oktober 2018
Menemukan Ide, Tanpa Mencari
Menemukan Ide, Tanpa Mencari
'Semesta'
Mengawali menulis bagi segelintir orang merupakan hal yang boleh dikatakan sangat sulit dilakukan, memulai itu sulit namun tidak memulai kemungkinan lebih sulit. Bagaimana tidak?, Tak sedikit orang yang memiliki minat, bakat bahkan berkeinginan dan berharap untuk menjadi seorang penulis serta menjadi terkenal bak ‘punya nama’. Menulis tanpa mencari ide sekiranya demikian pemahaman yang ‘tertangkap’ dari judul apresiasi di atas. Menarik perihal ungkapan yang mengatakan bahwa ‘semesta’ telah menyediakan ide menulis yang dengan mudah ditemui sebagai pemicu hasrat dan kemauan menulis oleh calon-calon penulis yang bermunculan.
'Ide'
Memulai, mengawali bahkan memilih ‘karier’ sebagai penulis sebagai ladang ‘pundi-pundi rupiah’. Ide menulis dimana-mana bahkan disebutkan mulai dari bangun tidur hingga akhirnya tidur kembali dalam aktifitas keseharian. Sehingga tak dipungkiri pula sepatah kalimat bahwa menulis itu mudah sebagai salah satu ‘ilmu’ yang membangkitkan gairah menulis bagi penulis pemula. Dorongan dan motivasi untuk membuka lembaran-lembaran buku yang berisi ilmu pengetahuan menulis pun menjadi petunjuk dan acuan menulis. Tak ubahnya belajar membaca dan menulis dari penulis-penulis yang telah menerbitkan karya buku. Kelihaian dan kepiawaian seseorang berperan serta untuk ‘menangkap’ sebuah objek ide dalam berkarya.
'Inspirasi'
Seperti seseorang penulis yang tanpa menyadari memberi ide ke seseorang yang lain yang ingin terjun dalam dunia tulis-menulis. Ide yang berupa rancangan yang tersusun di dalam pikiran/gagasan yang disebut-sebut sebagai modal awal dalam menulis. sedangkan inspirasi berupa ilham/bisikan. Ide yang seringkali menjadi ‘batu sandungan’ bagi seseorang dalam menulis, tak ada ide, belum ada ide. Inspirasi sesuatu yang ‘vital’ pula dalam proses berkarya khususnya dalam menulis. Baik ide dan inspirasi merupakan perihal yang berbeda namun tak dapat dipisahkan dalam proses menulis. Meminjam pepatah bahwa dimana ada kemauan di situ ada jalan. Bagaimana akhirnya?,Kemauan menulis menghadirkan kemampuan menulis. ‘semesta’ tercipta yang mengundang ide dan inspirasi yang siap tersaji di alam raya nan luas ini.
Objek
Objek ide yang tak terbatas seakan mengundang karya tulisan yang tak terbatas pula. Namun bukan hanya objek ide saja yang berbeda-beda namun subjek sebagai pelaku dalam berkarya menghasilkan ‘cara pandang atau melihat’ objek ide yang berbeda pun. Bertemu ‘jalan buntu’ untuk mengawali dan mengakhiri sebuah tulisan tak ayal merupakan ‘musuh’ terbesar. Bak batu besar yang menutupi sebuah gua yang akhirnya terdorong sekuat tenaga. Sebuah perjuangan bagi penulis-penulis untuk menemukan ide tanpa mencari. Selain itu peluang-peluang terlihat ide bahkan terlewatkan atau sama sekali bak angin lalu ‘sambil lalu terlewatkan’. Sehingga ide-ide yang menjadi ‘bibit-bibit’ inspirasi tulisan tak terwujud sedemikian rupa.
Iklim Intelektual
Hanya sedikit diantara sekian ide di semesta yang akhirnya berwujud tulisan-tulisan yang akhirnya dapat dinikmati. Menciptakan situasi dan kondisi ’iklim intelektual’ melalui interaksi yang sengaja diciptakan bahkan terpelihara. Tips dan trik penulis sebagai subjek pelaku dalam berkarya agar pikiran terkondisikan sedemikian rupa untuk menulis tak jarang terterapkan. Berhenti menulis bukan sebuah pilihan yang tepat bagi penulis-penulis yang produktif sehingga akhirnya akan ’mematikan’ kekreatifan. Sebuah sisi yang menarik dari menulis bahwa menulis tak terlepas dari dunia kerja yang ‘meminta’ kekreatifitas yang tinggi bahkan tiada henti. Memanggil ‘jiwa-jiwa penulis’ untuk tetap dan terus berkarya serta melahirkan karya-karya yang legendaris tak terikat oleh zaman.
'Tidak Sia-Sia'
Bukan perihal mencari jarum dalam jerami atau dalam artian melakukan pekerjaan yang sia-sia. Menemukan ide tanpa mencari, bagaimana?, secara spontan dan tiba-tiba sembari dengan focus pada titik dengan tujuan untuk menulis. Membaca dan menulis tak boleh dipisahkan yang sebenarnya sejak awal memasuki bangku sekolah telah diperkenalkan kedua aktiiftas tersebut. Menulis apa yang telah dibaca sebuah realisasi yang sederhana dalam mewujudkan karya tulisan. Tak jarang dengan membaca akhirnya menjadi sumber-sumber ide yang cerdas.Motivasi
Dari mana dan bagaimana memulainya? Tidak sulit, Ayu Utami, mengungkapkan bahwa Ide merupakan kata kunci yang bisa digunakan dalam menulis serta dorongan. Gampangnya, jika kita tak terlalu punya ide, perhatikanlah dorongan apa yang kamu punya. Apa yang mendorong aku? Apa yang membuat aku bersemangat, bergairah, geregetan atau gemas? Nah … berani menulis, keberanian pun dibutuhkan untuk menjadi seorang penulis selain menulis, menulis, dan menulis. Jika belajar membaca dengan membaca maka belajar menulis dengan menulis. Selanjutnya Ayu Utami dalam buku Menulis dan Berpikir Kreatif Cara Spiritualisme kritis, bahwa sebagian orang memiliki ide awal yang cukup jelas.
Ide Awal
Salah satu pertanyaan bantu untuk mengetahui apakah ada ide awal yang cukup jelas adalah : tentang apa ? Kita juga boleh berangkat dari ide tentang bentuk tulisan. Tapi ada kalanya kita tidak tahu mau menulis tentang apa. Jangan khawatir, jika ide tampak tak jelas, maka marilah kita lihat apa yang menjadi dorongan bagi kita. Apa yang membuat aku penasaran? Adakah hal yang membuat aku marah atau sedih atau sebaliknya, sangat senang? Adakah hal yang membuat aku terganggu atau terngiang-ngiang sampai sekarang? Adakah pertanyaan kehidupan yang aku belum bisa aku jawab?. Perasaan-perasaan intensi yang memberi dorongan itu sering bersarang dalam pengalaman sederhana dan sehari- hari di masa lampau. Selamat Membaca.
Minggu, 15 Juli 2018
Target ‘Jemput Bola’ Perhutanan Sosial
Target ‘Jemput Bola’ Perhutanan Sosial
Target Program Perhutanan Sosial
Target Program Perhutanan Sosial dengan target luasan yang 12,7 juta Ha mendorong tercipta strategi ‘jemput bola’. Tak terlepas dari waktu
yang terbatas serta sumber daya manusia ‘siap pakai’ yang terbatas serta menelaah
kerealitasan target. Perubahan-perubahan pun mengikuti dan terjadi di
perwujudan dan pelaksanaan Program Perhutanan Sosial agar menemukan target yang
rasional. Pencapaian target luasan areal Perhutanan Sosial yang diperuntukkan
bagi masyarakat di sekitar hutan dan dalam kawasan hutan melalui Percepatan
Perhutanan Sosial (PPS) dengan membentuk kelompok Kerja (POKJA). Kira-kira 4,38
juta hektare sebagai target realistis," ujar Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Siti Nurbaya dalam Rapat Koordinasi Nasional Perhutanan Sosial di
Hotel Ciputra, Selasa (Republika Co.id, 23/1/2018) .
'Jemput Bola'
Strategi dan Rencana Kerja dari masing-masing Satuan Kerja
(Satker) dengan kreatifitas tak luput tercipta demi mewujudkan Program
Perhutanan Sosial melalui target ‘jemput bola’. Bahwa hutan yang menyimpan
sumber daya alam yang dapat diperbaharui itu, tak berbanding lurus dengan
peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat baik di sekitar hutan dan dalam
kawasan hutan yang masih termasuk kawasan/daerah bahkan desa tertinggal. Oleh
karena itu sasaran perhutanan sosial tak terlepas dari kawasan hutan yang sejak
dulu tecipta dan dimanfaatkan sepenuh-penuhnya. Melalui kearifan lokal yang
tercipta secara alami dari warga masyarakat hutan secara turun temurun dan
terpelihara hingga kini. Ibarat lautan lepas yang berisi keramba-keramba ikan
yang siap ‘ditangkap’ untuk memenuhi hajat hidup rakyat secara berkeadilan dan
merata. Berdasar pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik
Indonesia Nomor P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.I/10/20 16 Tentang Perhutanan Sosial.
Bahwa Perhutanan Sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari yang
dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang
dilaksanakan oleh masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat sebagai pelaku
utama untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika
sosial budaya dalam bentuk Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman
Rakyat, Hutan Rakyat, Hutan Adat dan Kemitraan Kehutanan.
Implementasi Perhutanan Sosial
Pengimplementasian dari model pengelolaan
kawasan hutan Negara oleh masyarakat yang diharapkan mampu mengubah tata kelola
hutan menjadi model kelola bersama masyarakat yang dapat memberikan jaminan
bagi kelestarian sumber daya hutan. Program Perhutanan Sosial telah menjadi
prioritas sebagai akses legal masyarakat terhadap lahan (land) kawasan hutan
Negara seluas 12,7 juta Ha. Program Perhutanan Sosial dilaksanakan melalui
alokasi sumber daya hutan yang dikuasai Negara kepada masyarakat setempat, sebagaimana
diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.83 Tahun 2016
Tentang Perhutanan Sosial. Memahami bahwa pemanfaatan hutan kegiatan untuk
memanfaatkan kawasan hutan dalam bentuk hasil hutan kayu dan bukan kayu melalui
pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemaneman, pengolahan dan pemasaran
berdasarkan asas kelestarian hutan, social dan lingkungan dan atau dalam bentuk
pemanfaatan jasa lingkungan melalui antara lain jasa ekowisata, jasa tata
lingkungan , keanekaragaman hayati, jasa penyerapan/penyimpanan karbon.
Sosialisasi Perhutanan Sosial
Program Perhutanan Sosial yang meminta pengenalan dengan
sosialisasi ke elemen/lapisan masyarakat, segenap masyarakat, kelompok
masyarakat terutama masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat. Memupuk
kerjasama dan koordinasi pihak-pihak yang Percepatan Perhutanan Sosial . Perhutanan
social yang bertujuan mengurangi ketimpangan kepemilikan lahan dan mengurangi
konflik terhadap potensi-potensi konflik yang hadir. Tersebut sebagai Skema
Program Perhutanan Sosial : 1) Hutan Desa (HD), Hutan Negara yang dikelola oleh
desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa, 2) Hutan Kemasyarakatan (HKm),
Hutan Negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan
masyarakat, 3) Hutan Tanaman Rakyat (HTR), hutan tanaman pada hutan produksi
yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas
hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian
sumber daya hutan, 4). Hutan Adat (HA), hutan yang berada pada tanah yang
dibebani hak atas tanah, 5) Kemitraan Kehutanan (KK), kerjasama antara
masyarakat setempat dengan pengelola hutan, pemegang lain usaha pemanfaatan
hutan/jasa hutan, izin pinjam pakai kawasan hutan atau pemegang lain usaha
industri primer hasil hutan.
Hutan Lestari Rakyat Sejahtera
Dalam perkembangannya masyarakat hutan untuk kelola hutan
secara lestari, tanpa ‘merusak’ sumber daya hutan yang tersedia. Kerangka
berpikir segenap masyarakat setempat di sekitar kawasan hutan dan dalam kawasan
hutan yang menganggap bahwa hutan dapat diwariskan, dimiliki dan
diperjualbelikan termasuk lahan-lahan hutan, mengemuka. Namun tanpa mengabaikan
segenap masyarakat setempat pun khususnya dalam masyarakat adat yang berada di
sekitar kawasan hutan serta dalam kawasan hutan telah memiliki kearifan lokal
yang tertanam dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat adat yang terpelihara
serta terjaga melalui pemanfaatan hutan sepenuh-penuhnya. Mencari dan menemukan
‘solusi’yang berkesinambungan agar terwujud peningkatan kesejahteraan ekonomi
masyarakat setempat, yang berada di sekitar kawasan hutan maupun di dalam
kawasan hutan. Mengurangi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan
pengelolaan/pemanfaatan kawasan hutan sebagai ‘solusi’ dari problema tersebut.
Program Perhutanan Sosial telah menjadi program prioritas nasional, melalui 5
Skema Perhutanan Sosial terhadap keilegalan kelola hutan bagi masyarakat yang
ketergantungan hidup terhadap hutan sangat tinggi. Tak terlepas dari kawasan
hutan yang secara turun-temurun telah menjadi penopang hidup sanak keluarga
sampai beranak-pinak/beranak-cucu. Wassalam.
Selasa, 01 Mei 2018
De Mata Trick Eye Museum Jogya
De Mata Trick Eye Museum Jogya
Demata Trick Eye Museum.
Berkunjung ke Jogyakarta dalam rangka mengikuti Lokalatih. Nah ... ada yang kini terkunjungi, Demata Trick Eye Museum.
Beberapa foto dokumentasi berikut memperlihatkan 'view' demata yang terdiri dari beberapa area gedung. Bilik-bilik/blok-blok ruangan terbagi-bagi menurut area gedung yang masing-masing berbeda-beda.
Tersebut Demata 1, 2 dan 3...sebagai terusan dalam menyaksikan sekaligus menikmati 'view' yang ada. Perbedaan tema pun terlihat dan tampak pada masing-masing 'Demata'.
Nah.. alternatif pilihan bilik-bilik pun sesuai selera pengunjung. Baik tema, gambar, wallpaper, properti (produk indoor atau outdoor) untuk dokumentasi foto atau sekadar "cuci mata" tersaji.
Anak-anak dan dewasa bebas berekspresi sedemikian rupa.
Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi
Rabu, 14 Februari 2018
Selayang pandang ke Desa Laiya
Selayang pandang ke Desa Laiya
Pasca Lokakarya Strategi dan Rencana Kerja Kelompok Kerja Perhutanan Sosial Propinsi Sulawesi Selatan. Hari Jumat, 9 Februari 2018, kunjungan lapangan ke Desa Laiya Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros. Sekilas foto dari selayang pandang di bawah ini :
Note : Skema HKM Desa Laiya
* Matajang
* Manai
Sekilas foto berikut, serta foto ketika melanjutkan 'Trip Helene Sky Bridge'
Senin, 12 Februari 2018
Rabu, 10 Januari 2018
Nuansa Bhineka Tunggal Ika, Film Ayat-Ayat Cinta 2
Nuansa Bhineka Tunggal Ika,
Film Ayat-Ayat Cinta 2
Di awal tahun, ikut menyaksikan pemutaran film Ayat-Ayat Cinta 2 di salah satu bioskop di kota tempat bermukim. Akhir liburan, cuti kerabat ke Kota Makassar dan bersama-sama sekeluarga ikut menonton film tersebut. Sebelum menyaksikan film ini sekiranya sejenak membuka 'memori' perihal film Ayat-Ayat Cinta sebelumnya (Episode 1). Melalui 'layar poster' di dinding area bioskop, lamat-lamat memperhatikan para nama-nama pemain yang terlibat. Akhirnya kurang lebih, sedikit membuka ingatan akan film yang juga pernah di tonton, dulu.
Berikut nama-nama pemain yang berperan selain sosok Fahri yang diperankan oleh Fedi Nuril. Sebagai pemeran utama, Fedi Nuril merupakan aktor utama yang pertama jadi pembuka ingatan saya, perihal film ini. Selanjutnya sepertinya oleh saya terlupakan, entah mengapa? Iya, pemeran terganti, hanya sosok Fedi Nuril yang tak terganti dan lekat di ingatan. Pemeran film di antaranya : Chelsea Islan sebagai Keira, Tajtana Saphira sebagai Hulya, Dewi Sandra sebagai Aisha/Sabina dan Nur Fazura sebagai Brenda. Tak lupa pula saya berfoto di depan 'layar poster' film Ayat-Ayat Cinta 2 sebagai 'oleh-oleh' mengikuti kelanjutan film ini.
Menyaksikan film ini tak ubahnya bagi saya 'hanya' menonton belaka tanpa ingatan yang berarti perihal film Ayat-Ayat Cinta (episode 1). Seperti yang telah tersebut di atas, hanya sosok Fedi Nuril yang 'melekat' dalam ingatan. Selanjutnya mengikuti pemutaran film secara 'penuh waktu' hingga selesai. Pertama-tama yang menarik perhatian saya adalah 'setting' atau latar belakang tempat lokasi film ini berlangsung. Indah, cantik nian lokasi yang terlihat dalam bingkai layar besar bioskop, di Skotlandia
Beberapa ulasan film Ayat-Ayat Cinta 2, mengangkat 'keanehan-keanehan' atau 'kejanggalan-kejanggalan' dan apapun namanya seperti 'segumpal' kekurangan film ini. Meskipun demikian tanpa saya menyebut perihal sebagai kekurangan, saya mengungkapkan bahwa Film AyatAyat Cinta 2 masih 'khas' film besutan karya sinema anak bangsa sendiri. Tebak-tebak buah manggis, siapa dapat menebak rasa buah manggis? Tak ubahnya menebak siapa sosok yang bercadar dalam tokoh perempuan sebagai bagian dari cerita dan kisah film ini. Tak lain dan tak bukan, sosok Aisha istri Fahri yang diperankan oleh Dewi Sandra yang akhirnya membawa penonton ikut 'menebak' dengan tanpa 'rasa penasaran' yang berarti.
Kembali melihat judul tulisan blog ini, nuansa Bhineka Tunggal Ika dalam film ini tersurat dan tersirat. Oleh Fahri mengungkapkan dalam perbincangan bersama Hulusi yang diperankan Pandji Pragiwaksono. Pesan yang disampaikan melalui obrolan bahwa Bhineka Tunggal Ika berada di mana-mana bukan 'hanya' ketika berada di negeri sendiri, Indonesia. Bahkan oleh Fahri disebut berada di dalam sanubari dirinya yang kini berada di luar negeri dalam keragaman di negeri 'orang'. Tempat tinggal digambarkan di lokasi Edinburgh Skotlandia yang hidup berdampingan dengan tetangga dari latar belakang berbeda. Tetangga Fahri diperankan oleh beberapa pemain dari negeri sendiri, selebihnya dari warga negara asing (WNA) atau 'bule'. Sisi menarik di 'mata' saya, tanpa mengabaikan keragaman, membawa Bhineka Tunggal Ika bahkan oleh Fahri menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nenek Catarina (Dewi Irawan) salah satu aktris dari negeri sendiri yang berperan sebagai wanita Yahudi. Termasuk Hulusi (Pandji Pragwaksono) aktor Indonesia pun berperan sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) Fahri peran berkebangsaan Turki. Serta Keira (Chelsea Islan) dari Indonesia dan Jason (Cole Gribble) yang (WNA) sebagai kakak dan adik berperan dari Skotlandia merupakan tetangga Fahri. Tak lupa Brenda yang diperankan aktris Malaysia (Nur Fasura) berperan 'bule', tetangga Fahri pun, demikian keanekaragaman yang terlihat di sekitar tempat tinggal Fahri. Menunjukkan Kebhinekaan Tunggal Ika di mata Fahri di negeri 'orang' sehinga membawa dirinya dalam bersikap keseharian untuk saling harga-menghargai, saling bantu-membantu meskipun berbeda latar belakang, budaya dan agama. Padahal Fahri tak mendapatkan perlakuan sebagaimana Fahri 'Berbhineka Tunggal Ika' terhadap sekitar'tetangga', sebaliknya diperlakukan dengan penuh kebencian. Meskipun akhirnya seiring berlangsung film diputar akan 'ending' kebaikan berbalas kebaikan dari tetangga sekitar Fahri.
Ketegangan-ketegangan peperangan 'konflik' Palestina -Israel sebagai pembuka film ini tak urung membawa penonton 'hanyut' dalam peperangan. Kesedihan-kesedihan yang mengundang cucuran air mata pelakon-pelakon film Ayat-Ayat Cinta 2, ini dari beragam konflik yang dihadirkan diantara pemain-pemain. Tak urung mengundang tangisan pilu, sedu sedan yang tak berkesudahan dalam step by step adegan demi adegan. Namun entah mengapa?, saya yang sejak awal menyaksikan film ini bahkan dalam 'ketenangan' tanpa hiruk pikuk yang berarti belum berhasil membuat saya ikut 'menangis' pilu. Namun saya pun tak memungkiri bersatu-padu rasa dalam fim ini begitu nikmat untuk disaksikan tanpa jeda yang diwarnai dengan situasi dan kondisi yang tersaji.
Bagaimana 'kesetiaan' Fahri terhadap Aisha?
Bagaimana Aisha menjadi Sosok 'misterius' sebagai Sabina?
Bagaimana Akhir dari kisah Fahri & Aisha?
Pesan & Hikmah apa yang diperoleh akhirnya, penonton?
Nantikan jawaban sembari menonton Film Ayat-Ayat Cinta 2!
Selamat menikmati sinema Indonesia👌
Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi
Selasa, 07 November 2017
Talk show sejenak, Launching buku Menggapai Mimpi ke Puncak Dunia
Talk show sejenak, Launching buku
Menggapai Mimpi ke Puncak Dunia
Talk show sejenak oleh penulis buku Menggapai Mimpi ke Puncak Dunia, Rahmat Hadi. Saya pun sejenak pula akhirnya menyaksikan talk show tersebut. Talk show termasuk dalam rangkaian event sirkuit olah raga panjat tebing 2017 DKI Jakarta seri 3.
Launching buku tersebut merupakan buku ke-3, berlangsung di GOR Ragunan Jakarta selama 3 hari. Di awali pada hari Jumat, 27- Oktober sampai hari Minggu, 29 - Oktober 2017. Selain itu sebagai buku yang ditulis sendiri tanpa kolaborasi penulis lain seperti pada buku pertama dan kedua.
Buku yang bergenre writing traveler ini cukup menarik perhatian saya. Termasuk buku pertama yang diterbitkan oleh Gramedia, Surga Yang Tersembunyi, sedikit memberi sentuhan dari sisi 'jiwa petualangan' membuka memori sedikit petualang saya. Lebih dan kurang dari sisi petualangan, ketika mahasiswa kehutanan maupun selepas mahasiswa.
Tak dinyana penulis buku Menggapai Mimpi ke Puncak Dunia, tak lain dan tak bukan, angkatan senior kehutanan, Unhas. Menghadiri Launching buku Menggapai Mimpi Ke Puncak Dunia sekaligus bertemu langsung penulisnya.
Sedikit ulasan saya, tulisan dan dokumentasi suasana Launching buku tersebut tersaji di sini. Secara langsung memiliki buku bertandatangan penulis yang berisi memo ucapan selamat membaca. Tak lupa penulis pun mengucapkan terima kasih terhadap pengunjung atas dukungan yang diberikan.
Panjang Umur Literasi
Anggota Komunitas Pecandu Aksara
Makassar
Kamis, 12 Oktober 2017
Pelatihan Analisis dan Pengembangan Pasar oleh RECOFTC
Telah berlangsung pelatihan analisis dan pengembangan pasar oleh RECOFTC. Pelaksanaan selama 5 hari yang dimulai pada hari Senin, 2 Oktober 2017 s/d Jumat, 6 Oktober 2017. Tempat, lokasi pelatihan ini terlaksana di Balai Diklat Kehutanan Makassar.
Pelatihan analisis dan pengembangan pasar tersebut merupakan tahap kedua. Ada pun tahap pertama pernah berlangsung di Kabupaten Bulukumba. Para peserta berasal dari Kota Makassar dan beberapa Kota/Kabupaten setempat di Sulawesi Selatan. Antara lain dari Kabupaten Bulukumba, Bantaeng dan Gowa. Terdiri dari dosen, pegawai, penyuluh-penyuluh, kelompok-kelompok tani serta pemuda pemudi wirausaha dan elemen masyarakat terkait pertanian, perkebunan dan kehutanan.
Pelatihan diisi dengan kegiatan permainan 'games' dan kegiatan kunjungan lapangan serta evaluasi di akhir pelatihan. Baik evaluasi perihal materi maupun pembawa materi pelatihan.
Pelatihan ini bertema analisis dan pengembangan pasar untuk fasilitator lokal. Sekaligus capaian yang terkhusus bagi peserta. Sebagai panduan fasilitator lapangan pelaksanaan pendekatan Analisis dan Pengembangan Pasar (APP).
Berharap untuk kesejahteraan petani sebagai tujuan utama RECOFTC. Menghadirkan keoptimisan dalam mengikuti pelatihan bagi peserta dalam mencapai tujuan tersebut. Semoga.
Langganan:
Postingan (Atom)
KEMBALI BERSUA, HEY! MANADO CITY
Menyaksikan Pasutri Gaje, menarik untuk tak melewatkan film Pasutri Gaje yang berlatar belakang cerita, kisah dan kehidupan sepasang abdi ne...
-
Taman Wisata Alam (TWA) Danau Matano, Sorowako Bumi Batara Guru Kali ke-2 berkunjung ke Bumi Batara Guru, Kabupaten Luwu Timur ya...
-
Nostalgia Air Terjun Parangloe Ide Menyeruak di Meja Makan Berawal dari kunjungan Dinas teman kuliahan silam, ke Makassar yang ak...















































