Sabtu, 09 Februari 2019

Meniti Langkah Jembatan Gantung Puncak Masalili Muna



Meniti Langkah Jembatan Gantung 

Puncak Masalili Muna

Muna Oh... Muna

Pertama kali menginjakkan kaki di Kota Raha Kabupaten Muna sebagai lokasi tugas perdana memasuki tahun 2019. Meskipun pertama kali ke Kota Raha bukan berarti 'asing' nama Kota tersebut. Kota Raha sebagai ibukota Kabupaten Muna di Provinsi Sulawesi Tenggara 'sefamiliar'beberapa nama-nama Kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara, seperti Kab.Kolaka/Kolaka Timur dan Kolaka Utara, Kab. Konawe, Konawe Selatan dan Konawe Utara,Kab. Buton, Buton Tengah, Buton Selatan dan Buton Utara,Kab.Bombana, Kab. Bau-Bau serta Kab. Wakatobi. 

Temu Kesan

'Sesuatu' yang menarik saya temui di Kota Raha Kabupaten Muna, selain memasuki Bandara Udara Sugimanuru yang berada di wilayah administrasi Kab.Muna Barat yang memberi kesan 'sepi'. Infrastruktur jalan-jalan yang cukup lebar/luas yang meninggalkan kesan 'ketertinggalan' atau bahkan terjadi 'kesalahan' perencanaan. Lebih lanjut terlihat jalan-jalan sebagai aksesibilitas yang telah terbuka berbentuk aspal namun seakan 'tertimbun' tanah-tanah merah/liat yang cukup hampir menutupi aspal-aspal yang 'tersisa'. Selain itu lalu-lalang tak berkesan ramai yang merupakan jalur utama transportasi darat dari Bandara Sugimanuru. 

Jembatan Gantung Puncak Masalili

Nah...perjalanan ke Kota Raha Kab. Muna yang membawa diri meniti Jembatan Gantung di Puncak Masalili sesuai nama lokasi puncak yang berada di Desa Masalili Kab. Muna. Jejak kaki ke Puncak Masalili Muna, bukan karena sebab menginjakkan kaki di titian/jembatan gantung Puncak Masalili. Liputan Trip My Adventure oleh Trans TV Penyampaian dari Kades Masalili La ode Rasali yang memberitahukan perihal peliputan oleh Trans TV beberapa waktu lalu.Beberapa upload video oleh mereka yang pernah berkunjung  dan disaksikan melalui YouTube. Nah...di kota ..yang memberi kesan sepi...bahkan sedikit komentar penghuni kota pun tak menyangka bahwa salah satu objek wisata di kota Raha kabupaten Muna telah menarik peliput dari salah satu stasiun tv di tanah air yang sebagai ajang bahkan sarana promosi yang efektif.

 
Buka Album foto/video

Nah...beberapa foto dari dokumentasi pribadi yang menunjukkan kunjungan sejenak ke Puncak Masalili serta video oleh Kepala Desa Masalili, La ode Rasali ketika Trans TV liputan My Trip My Adventure .Waktu tempuh kurang lebih 40 menit dari pusat kota Raha sebagai Ibukota Kab. Muna, berbarengan tugas negara tercinta sembari menikmati kesejukan sejenak. Salam 5 Jari...Perhutanan Sosial. Rakyat Sejahtera Hutan Lestari


Dokumentasi Foto/Video : Pribadi/Team Work
\
 

Jumat, 11 Januari 2019

Menengok Keluarga Cemara,

 Menengok Keluarga Cemara,

Menulis 'sekilas' cerita film

Kembali terbersit keinginan untuk menuangkan 'sekilas' cerita film, Keluarga Cemara. Sebelumnya, sepertinya saya ingin mengungkapkan pengakuan bahwa sinetron Keluarga Cemara bukan sinetron favorit saya. Namun akhirnya justru menjadi sebab yang melatarbelakangi rasa penasaran perihal film keluarga Cemara yang sementara edar di bioskop setempat.

Tema Keluarga

Mengusung tema keluarga yang sudah 'terlihat' (baca:terbaca) jelas pada judul film Keluarga Cemara. Nah...pemeran emak (Nirina Zubir), selanjutnya tokoh Abah, Euis dan Ara. Sekiranya cermat dalam mengamati salah satu nama pemeran tokoh di atas yang telah tersebut, gambaran judul film. Keluarga Cemara, Ara sebagai nama tokoh anak ke-2 perempuan dalam dialog antara Abah dan Ara, bahwa nama Ara diambil dari nama Pohon Cemara, Ara. Diawali sejenak dengan 'kehidupan mewah' keluarga Abah dan Emak. 

Konflik, Bangkrut

Hanya sejenak terlihat dan akhirnya 'lenyap' seketika oleh karena bangkrut yang disebabkan kerabat, ipar Abah sendiri. Nah.. bagaimana akhirnya keluarga ini menghadapi kehidupan yang 'pas-pasan', cukup mengundang rasa empati penonton dengan meneteskan air mata. Cukup menarik 'background' rumah keluarga Cemara pasca pindah dari Kota Jakarta ke desa di Jawa Barat yang menghadirkan konflik, menetap atau balik kembali ke Jakarta. 

Sejuk dan Damai

Suasana pepohonan lebat ditiup angin, bunyi sayup-sayup serangga terdengar di sekitar seakan mengajak untuk senantiasa menciptakan kedamaian dan ketentraman di hati dan sekitar. Konflik-konflik tercipta yang diselingi canda-tawa dalam film Keluarga Cemara membawa penonton 'hanyut' dalam menikmatinya. Tangisan dan Tertawa terdengar yang diiringi nuansa-nuansa musik yang berbeda dihadirkan bahkan nuansa musik ketegangan pun tak luput dalam film ini, antara lain ketika Abah mengalami kecelakaan kerja. 

Penonton Semua Umur 

Film ini tersaji untuk semua umur dan menghadirkan konflik-konflik 'ala remaja' pada pemeran Euis sebagai anak Pertama Abah yang memasuki usia remaja. Rasa penyesalan yang amat dalam bagi Abah terhadap keluarga 'menggiring' penonton pada 'kesedihan' yang berkepanjangan namun akhirnya diselingi dialog singkat perihal tanggung jawab Abah dalam Keluarga Cemara akhirnya menemui 'titik temu' untuk tidak menyalahkan diri sendiri berlarut-larut bagi Abah.

Petik Hikmah Film

Ditengah-tengah kondisi kehidupan Keluarga Cemara yang berusaha untuk keluar dalam kesulitan, Abah dianugrahi anak ke-3 sebagai adik Ara. Demikian saya 'menangkap' bahwa baik dalam keadaan susah dan senang bagi sebuah keluarga atau rumah tangga seyogyanya saling bantu-membantu, bahu-membahu, bekerja sama dalam menghadapi kehidupan yang dijalani. Selanjutnya Keluarga Cemara dipengujung film memutuskan untuk menetap di desa Jawa Barat, rumah warisan keluarga Abah tanpa pindah ke Jakarta. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 15 Desember 2018

Coching Clinic Verifikasi Teknis Perhutanan Sosial Tahap III Provinsi Sulawesi Tenggara

 Coching Clinic Verifikasi Teknis Perhutanan Sosial Tahap III Provinsi Sulawesi Tenggara

Pembukaan Coching Clinic

Mengawali kegiatan Coching Clinic dalam rangka Verifikasi Teknis Perhutanan Sosial Tahap III Sultra, Pembukaan acara kegiatan oleh Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Perhutanan Sosial dari Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara. Peserta terdiri dari Team Vertek Tahap III Sultra, termasuk anggota Kelompok Kerja (Pokja), beberapa hadir dari anggota yang kurang lebih 50 anggota.

Plaza Inn Kendari


Pertemuan Coching Clinic berlansung di Plaza Inn Kendari pada hari Selasa/11 Desember 2018 pada  malam hari dimulai pukul 18.30 Wita. Provinsi Sulawesi Tenggara dengan target  32 ribu Ha dan yang telah diverifikasi teknis kurang lebih luasan dikisaran 50 - 60 ribu Ha, tersebut 58 Ha dan pada perencanaan Verifikasi Teknis selanjutnya pada luasan 16 ribu Ha, sehingga telah mencapai 74 H. Realiasasi atau pencapaian dianggap telah maksimal, termasuk usulan baru terdiri dari 40 Kelompok Tani Hutan untuk difasilitasi

Pengantar Coching Clinic 


Selanjutnya pengantar Coching Clinic berupa perihal Berita Acara (BA) dengan menambahkan keterangan gender 'issu gender' sekaligus penambahan tenaga dari KPH dan pendamping. Mengawali Verifikasi teknis pada usulan pasca tanpa IUP yang berita acara merupakan dasar penerbitan IUP termasuk daftar nama Kelompok Tani Hutan yang terangkum dalam SHP serta peta lokasi usulan skema perhutanan sosial.

Sambutan


Pernyataan dari pihak Pejabat Pembuat Komitmen bahwa melayani 60 divisi dengan pemahaman anggaran terkait SPJ serta penyampaian terkait pengajuan usulan Fasilitasi Perhutanan  Sosial untuk dalam perencanaan tahun depan, 2019. Sedangkan pemantapan team vertek oleh T2PS, percepatan perhutanan sosial melalui Surat Tugas terkait pelaksanaan vertek serta jumlah personil atau tenaga yang akan melaksanakan kegiatan tersebut. Menambahkan kembali  agar 'update' tingkat nasional bahwa target luasan perhutanan sosial target nasional pada kisaran 2..2 juta ha dari rencana 2,5 juta Ha sampai pada tahap akhir bulan Desember tahun 2018.
  

Perhutanan Sosial 

Perhutanan Nasional merupakan program strategis nasional dengan luasan 12,7 juta Ha yang.dalam realisasinya 'meminta' pengurangan luasan. Melalui 5 skema perhutanan sosial mewujudkan hutan lestari , rakyat sejahtera. Diakhir acara kegiatan pembukaan kegiatan verifikasi  teknis menghasilkan rumusan akhir. Sedangkan hasil verifikasi teknis perhutanan sosial  dengan tembusan pada 5 (lima)  pihak-pihak yang terkait dalam proses teknis. Salam 5 jari, BPSKL Wil. Sulawesi.








Dokumentasi : BPSKL Wil. Sulawesi 

Senin, 12 November 2018

Forester Festival 2018

FORESTER FESTIVAL IKA KEHUTANAN UNHAS

Forester Festival

         Telah berlangsung ajang Forester Festival untuk yang pertama kali, yang direncanakan akan berlangsung setiap tahun atau sebagai agenda tahunan IKA Kehutanan Unhas. Forester Festival 2018 - Reuni Tahunan IKA Kehutanan Unhas, berlangsung pada tanggal 9 – 11 November 2018, baru-baru ini. Kegiatan antara lain Seminar Alumni ‘Peran Rimbawan Dalam Pembangunan Kehutanan Indonesia’,  Ramah Tamah IKA Kehutanan Unhas,   Forester Back To Campus (Fun Walk, Bedah Buku, Bazaar dan Panggung Hiburan), Forester Camp (Gala Dinner dan Forester Night, Senam Pagi, Cross Country, Baksos dan Outbound)





Pagelaran Forester Festival 2018
 Ada 3 lokasi pagelaran Forester Festival 2018, Lokasi I, di Rujab Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 9 November 2018. Lokasi II, di Kampus Unhas Tamalanrea Makassar atau yang lebih dikenal dengan nama Kampus Merah pada tanggal 10 November 2018. Selanjutnya Lokasi III, di Hutan Pendidikan Unhas Bengo-Bengo Kab. Maros Provinsi Sulawesi Selatan. Forester Festival 2018 ini, dihadiri oleh  Prof. Dr. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr, IPU sebagai Ketua Umum IKA Kehutanan Unhas.
Forester Festival adalah ajang kreatif yang diinisiasi dengan brilliant!!!Momentum pertemuan dan silaturahim alumni IKA Kehutanan Unhas dan civitas akademika Fahutan Unhas, menjawab panjang penantian dan dahaga rindu para alumni terhadap sahabat, kerabat, bahkan dengan fakultas serta semua sudut ruang kampusnya … so don’t miss, itu jadilah  bagian dari sejarah pelaksanaan FF Pertama… juga Bagian dari kebangkitan persatuan dan  gelora KORPS Rimbawan Unhas… COS We Are Forester, ungkap Jay Syamsu Rijal yang juga sebagai penulis buku Badik Berbunga di Negeri Para Samurai di kegiatan Bedah Buku pada Forester Festival 2018. Berbarengan dikesempatan ini pula bedah buku Kilimanjaro, Menapak Atap Afrika oleh Rahmat Hadi Forester Angkatan 1990. Salam Rimba👌.





Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi/Panitia Pelaksana FF 2018






Senin, 15 Oktober 2018

Menemukan Ide, Tanpa Mencari


Menemukan Ide, Tanpa Mencari

 'Semesta'

    Mengawali menulis bagi segelintir orang merupakan hal yang boleh dikatakan sangat sulit dilakukan, memulai itu sulit namun tidak memulai kemungkinan lebih sulit. Bagaimana tidak?, Tak sedikit orang yang memiliki minat, bakat bahkan berkeinginan dan berharap untuk menjadi seorang penulis serta menjadi terkenal bak ‘punya nama’. Menulis tanpa mencari ide sekiranya demikian pemahaman yang ‘tertangkap’ dari judul apresiasi di atas. Menarik perihal ungkapan yang mengatakan bahwa ‘semesta’ telah menyediakan ide menulis yang dengan mudah ditemui sebagai pemicu hasrat dan kemauan menulis oleh calon-calon penulis yang bermunculan. 

'Ide' 

      Memulai, mengawali bahkan memilih ‘karier’ sebagai penulis sebagai ladang ‘pundi-pundi rupiah’. Ide menulis dimana-mana bahkan disebutkan mulai dari bangun tidur hingga akhirnya tidur kembali dalam aktifitas keseharian. Sehingga tak dipungkiri pula sepatah kalimat bahwa menulis itu mudah sebagai salah satu ‘ilmu’ yang membangkitkan gairah menulis bagi penulis pemula. Dorongan dan motivasi untuk membuka lembaran-lembaran buku yang berisi ilmu pengetahuan menulis pun menjadi petunjuk dan acuan menulis. Tak ubahnya belajar membaca dan menulis dari penulis-penulis yang telah menerbitkan karya buku. Kelihaian dan kepiawaian seseorang berperan serta untuk ‘menangkap’ sebuah objek ide dalam berkarya. 

'Inspirasi'

     Seperti seseorang penulis yang tanpa menyadari memberi ide ke seseorang yang lain yang ingin terjun dalam dunia tulis-menulis. Ide yang berupa rancangan yang tersusun di dalam pikiran/gagasan yang disebut-sebut sebagai modal awal dalam menulis. sedangkan inspirasi berupa ilham/bisikan. Ide yang seringkali menjadi ‘batu sandungan’ bagi seseorang dalam menulis, tak ada ide, belum ada ide. Inspirasi sesuatu yang ‘vital’ pula dalam proses berkarya khususnya dalam menulis. Baik ide dan inspirasi merupakan perihal yang berbeda namun tak dapat dipisahkan dalam proses menulis. Meminjam pepatah bahwa dimana ada kemauan di situ ada jalan. Bagaimana akhirnya?,Kemauan menulis menghadirkan kemampuan menulis. ‘semesta’ tercipta yang mengundang ide dan inspirasi yang siap tersaji di alam raya nan luas ini. 

Objek 

    Objek ide yang tak terbatas seakan mengundang karya tulisan yang tak terbatas pula. Namun bukan hanya objek ide saja yang berbeda-beda namun subjek sebagai pelaku dalam berkarya menghasilkan ‘cara pandang atau melihat’ objek ide yang berbeda pun. Bertemu ‘jalan buntu’ untuk mengawali dan mengakhiri sebuah tulisan tak ayal merupakan ‘musuh’ terbesar. Bak batu besar yang menutupi sebuah gua yang akhirnya terdorong sekuat tenaga. Sebuah perjuangan bagi penulis-penulis untuk menemukan ide tanpa mencari. Selain itu peluang-peluang terlihat ide bahkan terlewatkan atau sama sekali bak angin lalu ‘sambil lalu terlewatkan’. Sehingga ide-ide yang menjadi ‘bibit-bibit’ inspirasi tulisan tak terwujud sedemikian rupa. 

Iklim Intelektual

    Hanya sedikit diantara sekian ide di semesta yang akhirnya berwujud tulisan-tulisan yang akhirnya dapat dinikmati. Menciptakan situasi dan kondisi ’iklim intelektual’ melalui interaksi yang sengaja diciptakan bahkan terpelihara. Tips dan trik penulis sebagai subjek pelaku dalam berkarya agar pikiran terkondisikan sedemikian rupa untuk menulis tak jarang terterapkan. Berhenti menulis bukan sebuah pilihan yang tepat bagi penulis-penulis yang produktif sehingga akhirnya akan ’mematikan’ kekreatifan. Sebuah sisi yang menarik dari menulis bahwa menulis tak terlepas dari dunia kerja yang ‘meminta’ kekreatifitas yang tinggi bahkan tiada henti. Memanggil ‘jiwa-jiwa penulis’ untuk tetap dan terus berkarya serta melahirkan karya-karya yang legendaris tak terikat oleh zaman.
  

'Tidak Sia-Sia'

      Bukan perihal mencari jarum dalam jerami atau dalam artian melakukan pekerjaan yang sia-sia. Menemukan ide tanpa mencari, bagaimana?, secara spontan dan tiba-tiba sembari dengan focus pada titik dengan tujuan untuk menulis. Membaca dan menulis tak boleh dipisahkan yang sebenarnya sejak awal memasuki bangku sekolah telah diperkenalkan kedua aktiiftas tersebut. Menulis apa yang telah dibaca sebuah realisasi yang sederhana dalam mewujudkan karya tulisan. Tak jarang dengan membaca akhirnya menjadi sumber-sumber ide yang cerdas. 

Motivasi

    Dari mana dan bagaimana memulainya? Tidak sulit, Ayu Utami, mengungkapkan bahwa Ide merupakan kata kunci yang bisa digunakan dalam menulis serta dorongan. Gampangnya, jika kita tak terlalu punya ide, perhatikanlah dorongan apa yang kamu punya. Apa yang mendorong aku? Apa yang membuat aku bersemangat, bergairah, geregetan atau gemas? Nah … berani menulis, keberanian pun dibutuhkan untuk menjadi seorang penulis selain menulis, menulis, dan menulis. Jika belajar membaca dengan membaca maka belajar menulis dengan menulis. Selanjutnya Ayu Utami dalam buku Menulis dan Berpikir Kreatif Cara Spiritualisme kritis, bahwa sebagian orang memiliki ide awal yang cukup jelas. 

Ide Awal

     Salah satu pertanyaan bantu untuk mengetahui apakah ada ide awal yang cukup jelas adalah : tentang apa ? Kita juga boleh berangkat dari ide tentang bentuk tulisan. Tapi ada kalanya kita tidak tahu mau menulis tentang apa. Jangan khawatir, jika ide tampak tak jelas, maka marilah kita lihat apa yang menjadi dorongan bagi kita. Apa yang membuat aku penasaran? Adakah hal yang membuat aku marah atau sedih atau sebaliknya, sangat senang? Adakah hal yang membuat aku terganggu atau terngiang-ngiang sampai sekarang? Adakah pertanyaan kehidupan yang aku belum bisa aku jawab?. Perasaan-perasaan intensi yang memberi dorongan itu sering bersarang dalam pengalaman sederhana dan sehari- hari di masa lampau. Selamat Membaca.

Minggu, 15 Juli 2018

Target ‘Jemput Bola’ Perhutanan Sosial

Target ‘Jemput Bola’ Perhutanan Sosial


        Target Program Perhutanan Sosial

Target Program Perhutanan Sosial dengan target luasan yang 12,7 juta Ha mendorong tercipta strategi ‘jemput bola’. Tak terlepas dari waktu yang terbatas serta sumber daya manusia ‘siap pakai’ yang terbatas serta menelaah kerealitasan target. Perubahan-perubahan pun mengikuti dan terjadi di perwujudan dan pelaksanaan Program Perhutanan Sosial agar menemukan target yang rasional. Pencapaian target luasan areal Perhutanan Sosial yang diperuntukkan bagi masyarakat di sekitar hutan dan dalam kawasan hutan melalui Percepatan Perhutanan Sosial (PPS) dengan membentuk kelompok Kerja (POKJA). Kira-kira 4,38 juta hektare sebagai target realistis," ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dalam Rapat Koordinasi Nasional Perhutanan Sosial di Hotel Ciputra, Selasa (Republika Co.id, 23/1/2018) .

'Jemput Bola'

Strategi dan Rencana Kerja dari masing-masing Satuan Kerja (Satker) dengan kreatifitas tak luput tercipta demi mewujudkan Program Perhutanan Sosial melalui target ‘jemput bola’. Bahwa hutan yang menyimpan sumber daya alam yang dapat diperbaharui itu, tak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat baik di sekitar hutan dan dalam kawasan hutan yang masih termasuk kawasan/daerah bahkan desa tertinggal. Oleh karena itu sasaran perhutanan sosial tak terlepas dari kawasan hutan yang sejak dulu tecipta dan dimanfaatkan sepenuh-penuhnya. Melalui kearifan lokal yang tercipta secara alami dari warga masyarakat hutan secara turun temurun dan terpelihara hingga kini. Ibarat lautan lepas yang berisi keramba-keramba ikan yang siap ‘ditangkap’ untuk memenuhi hajat hidup rakyat secara berkeadilan dan merata. Berdasar pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.I/10/2016 Tentang Perhutanan Sosial. Bahwa Perhutanan Sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya dalam bentuk Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Rakyat, Hutan Adat dan Kemitraan Kehutanan.

           Implementasi Perhutanan Sosial

          Pengimplementasian dari model pengelolaan kawasan hutan Negara oleh masyarakat yang diharapkan mampu mengubah tata kelola hutan menjadi model kelola bersama masyarakat yang dapat memberikan jaminan bagi kelestarian sumber daya hutan. Program Perhutanan Sosial telah menjadi prioritas sebagai akses legal masyarakat terhadap lahan (land) kawasan hutan Negara seluas 12,7 juta Ha. Program Perhutanan Sosial dilaksanakan melalui alokasi sumber daya hutan yang dikuasai Negara kepada masyarakat setempat, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.83 Tahun 2016 Tentang Perhutanan Sosial. Memahami bahwa pemanfaatan hutan kegiatan untuk memanfaatkan kawasan hutan dalam bentuk hasil hutan kayu dan bukan kayu melalui pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemaneman, pengolahan dan pemasaran berdasarkan asas kelestarian hutan, social dan lingkungan dan atau dalam bentuk pemanfaatan jasa lingkungan melalui antara lain jasa ekowisata, jasa tata lingkungan , keanekaragaman hayati, jasa penyerapan/penyimpanan karbon.

Sosialisasi Perhutanan Sosial


Program Perhutanan Sosial yang meminta pengenalan dengan sosialisasi ke elemen/lapisan masyarakat, segenap masyarakat, kelompok masyarakat terutama masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat. Memupuk kerjasama dan koordinasi pihak-pihak yang Percepatan Perhutanan Sosial . Perhutanan social yang bertujuan mengurangi ketimpangan kepemilikan lahan dan mengurangi konflik terhadap potensi-potensi konflik yang hadir. Tersebut sebagai Skema Program Perhutanan Sosial : 1) Hutan Desa (HD), Hutan Negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa, 2) Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat, 3) Hutan Tanaman Rakyat (HTR), hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan, 4). Hutan Adat (HA), hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah, 5) Kemitraan Kehutanan (KK), kerjasama antara masyarakat setempat dengan pengelola hutan, pemegang lain usaha pemanfaatan hutan/jasa hutan, izin pinjam pakai kawasan hutan atau pemegang lain usaha industri primer hasil hutan.

Hutan Lestari Rakyat Sejahtera

Dalam perkembangannya masyarakat hutan untuk kelola hutan secara lestari, tanpa ‘merusak’ sumber daya hutan yang tersedia. Kerangka berpikir segenap masyarakat setempat di sekitar kawasan hutan dan dalam kawasan hutan yang menganggap bahwa hutan dapat diwariskan, dimiliki dan diperjualbelikan termasuk lahan-lahan hutan, mengemuka. Namun tanpa mengabaikan segenap masyarakat setempat pun khususnya dalam masyarakat adat yang berada di sekitar kawasan hutan serta dalam kawasan hutan telah memiliki kearifan lokal yang tertanam dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat adat yang terpelihara serta terjaga melalui pemanfaatan hutan sepenuh-penuhnya. Mencari dan menemukan ‘solusi’yang berkesinambungan agar terwujud peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat, yang berada di sekitar kawasan hutan maupun di dalam kawasan hutan. Mengurangi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan pengelolaan/pemanfaatan kawasan hutan sebagai ‘solusi’ dari problema tersebut. Program Perhutanan Sosial telah menjadi program prioritas nasional, melalui 5 Skema Perhutanan Sosial terhadap keilegalan kelola hutan bagi masyarakat yang ketergantungan hidup terhadap hutan sangat tinggi. Tak terlepas dari kawasan hutan yang secara turun-temurun telah menjadi penopang hidup sanak keluarga sampai beranak-pinak/beranak-cucu. Wassalam.

Selasa, 01 Mei 2018

De Mata Trick Eye Museum Jogya


De Mata Trick Eye Museum Jogya

Demata Trick Eye Museum.

Berkunjung ke Jogyakarta dalam rangka mengikuti Lokalatih. Nah ... ada yang kini terkunjungi, Demata Trick Eye Museum.

Beberapa foto dokumentasi berikut memperlihatkan 'view' demata yang terdiri dari beberapa area gedung. Bilik-bilik/blok-blok ruangan terbagi-bagi menurut area gedung yang masing-masing berbeda-beda.

Tersebut Demata 1, 2 dan 3...sebagai terusan dalam menyaksikan sekaligus menikmati 'view' yang ada. Perbedaan tema pun terlihat dan tampak pada masing-masing 'Demata'.

Nah.. alternatif pilihan bilik-bilik pun sesuai selera pengunjung. Baik  tema, gambar, wallpaper, properti (produk indoor atau outdoor) untuk dokumentasi foto atau sekadar "cuci mata" tersaji.

Anak-anak dan dewasa bebas berekspresi sedemikian rupa.






















                                                   Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

Rabu, 14 Februari 2018

Selayang pandang ke Desa Laiya


Selayang pandang ke Desa Laiya

Pasca Lokakarya Strategi dan Rencana Kerja Kelompok Kerja Perhutanan Sosial Propinsi Sulawesi Selatan. Hari Jumat, 9 Februari 2018, kunjungan lapangan ke Desa Laiya Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros. Sekilas foto dari selayang pandang di bawah ini :

Note : Skema HKM Desa Laiya
            * Matajang
            * Manai

Sekilas foto berikut, serta foto ketika melanjutkan 'Trip Helene Sky Bridge'


                            








Trip Helene Sky Bridge







Sumber foto : Pribadi


KEMBALI BERSUA, HEY! MANADO CITY

Menyaksikan Pasutri Gaje, menarik untuk tak melewatkan film Pasutri Gaje yang berlatar belakang cerita, kisah dan kehidupan sepasang abdi ne...