Akhirnya ke hutan, bukan berarti tak pernah ke hutan lagi pasca menyelesaikan 'kuliahan kehutanan'. Namun spesifik kembali menginjakkan kaki di Hutan Pendidikan Unhas menjadi pertama kali akhirnya. Bila dihitung mundur kisaran belasan tahunan bahkan 20-an tahun lalu ketika 'pernah' ke hutan tersebut.
Tak memungkiri jalur jalan menuju lokasi hutan ini merupakan jalan poros pula. Mencapai beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, menempuh perjalanan yang melalui hutan tersebut. Terbersit sejenak dan membuka 'memori' kalau pernah ke hutan pendidikan itu.
Alternatif pilihan jalan tersedia tanpa melalui jalur jalan dan melintas di depan hutan menuju daerah/kota kabupaten setempat. Sehingga saya pun terkadang tak melintas lagi bahkan menjadi 'nyaris' tak pernah, terlupa akhirnya.
Entah, sejak kapan membuka 'memori anak hutan'?
Dulu, dulu dan dulu!'Pernah'!Lupa!'
Akhirnya ke hutan💬✌
Selasa, 08 Agustus 2017
Jumat, 04 Agustus 2017
Puisi itu 'Rasa', Aku Ingin 'Rasa' Puisi itu -Uli Ari-
Jadwal Perayaan Hari Puisi Indonesia di Kota Makassar terlihat olehku. Berupa undangan terbuka yang terpublikasikan di media sosial Facebook. Pada tanggal 30 Juli 2017, hari Minggu lalu dan berlangsung pada malam hari sampai larut. Tepatnya pukul 19.30 - selesai, tertera di undangan yang ter'share' dari beberapa panitia acara.
Lokasi acara yang tak asing bagi penyair-penyair di kota Makassar. Gedung Arena Kesenian Makassar Societeit De Harmoni sebagai tempat acara tersebut berlangsung. Pertama kali berkunjung ke lokasi tersebut yang terkadang terlihat olehku pun, bangunan 'lama'. Suka cita karena akhirnya bersama rekan seangkatan 'Writing Camp' ikut nonton bersama 'nobar'.
Pagelaran berlangsung yang terasa 'hening, sunyi, sepi', di sela-sela 'hiruk-pikuk' acara. Penyair-penyair pengisi acara tampil silih berganti membawa nuansa pagelaran di acara hari puisi. Membaca puisi dengan 'style' yang berbeda-beda dari setiap penyair-penyair yang didaulat ke panggung. Tak sepi pun dari tepuk tangan sembari menikmati malam itu yang pada 'lesehan' baik penyair-penyair dan penonton. Sebagian, beberapa 'dudukan' sendiri ataupun bersama, ramai-ramai.
Di bagian salah satu sisi ruangan depan di gedung kesenian tertera gambar sosok-sosok 'wajah penyair'. Kutipan-kutipan puisi melengkapi
poster-poster penyair, menarik perhatian pengunjung sekaligus penonton yang berkesempatan hadir. Judul karya puisi dan nama-nama penyair tertera beserta kutipan puisi seperti yang telah tersebut di atas pada masing-masing poster.
Malam berlalu, beranjak puisi demi puisi, membawa ke dalam 'rasa' menikmati karya sang penyair, terdengar dari bibir-bibir sang penyair, sebuah buku di tangan-tangan sang penyair, karya sang penyair-penyair 'kata-kata yang tak menua', terlihat di malam itu. Selamat Hari Puisi Indonesia.
Lokasi acara yang tak asing bagi penyair-penyair di kota Makassar. Gedung Arena Kesenian Makassar Societeit De Harmoni sebagai tempat acara tersebut berlangsung. Pertama kali berkunjung ke lokasi tersebut yang terkadang terlihat olehku pun, bangunan 'lama'. Suka cita karena akhirnya bersama rekan seangkatan 'Writing Camp' ikut nonton bersama 'nobar'.
Pagelaran berlangsung yang terasa 'hening, sunyi, sepi', di sela-sela 'hiruk-pikuk' acara. Penyair-penyair pengisi acara tampil silih berganti membawa nuansa pagelaran di acara hari puisi. Membaca puisi dengan 'style' yang berbeda-beda dari setiap penyair-penyair yang didaulat ke panggung. Tak sepi pun dari tepuk tangan sembari menikmati malam itu yang pada 'lesehan' baik penyair-penyair dan penonton. Sebagian, beberapa 'dudukan' sendiri ataupun bersama, ramai-ramai.
Di bagian salah satu sisi ruangan depan di gedung kesenian tertera gambar sosok-sosok 'wajah penyair'. Kutipan-kutipan puisi melengkapi
poster-poster penyair, menarik perhatian pengunjung sekaligus penonton yang berkesempatan hadir. Judul karya puisi dan nama-nama penyair tertera beserta kutipan puisi seperti yang telah tersebut di atas pada masing-masing poster.
Malam berlalu, beranjak puisi demi puisi, membawa ke dalam 'rasa' menikmati karya sang penyair, terdengar dari bibir-bibir sang penyair, sebuah buku di tangan-tangan sang penyair, karya sang penyair-penyair 'kata-kata yang tak menua', terlihat di malam itu. Selamat Hari Puisi Indonesia.
Minggu, 25 Juni 2017
Lebaran, dibalik 'nama' lapangan bola
Lebaran tahun ini hadir kembali, pasca menunaikan puasa di Bulan Ramadhan. Dalam pelaksanaan Shalat Idul Fitri pun dihadapkan pada pilihan lokasi atau tempat beribadah di hari raya ini. Alternative pilihan tersebut meliputi di mesjid atau di lapangan, beberapa mesjid pun serta lapangan 'bersolek' untuk menyambut jemaah yang hadir.
Demikian adanya, yang terkadang jauh-jauh hari menentukan pilihan tersebut. Aksesibilitas serta kenyamanan dalam beribadah di hari raya sebagai 'tolak ukur' memilih. Keterbatasan area masjid untuk menampung jemaah setempat seperti di pemukiman-pemukiman. Berbeda dengan masjid-masjid besar 'raya' yang berdiri atau berada di pusat-pusat keramaian.
Sedangkan lapangan yang memiliki luasan tertentu akhirnya menjadi pilihan utama dalam beribadah di hari raya. Nyaris terlupakan bahwa jalan raya pun menjadi salah satu alternatif tempat menunaikan ibadah shalat di hari-hari raya umat muslim ini. Kesiapan menempuh jarak yang jauh pun tidak menyurutkan menuju lokasi yang telah ditentukan. Di area tempat tinggal bermukim berdiri masjid beberapa, satu mesjid dengan jarak tempuh terdekat, bernama Al-Jihad.
Sarana lapangan bola yang saban hari tak pernah sepi dari pemain-pemain bola serta penonton setia. Hari-hari tertentu menjadi sarana olahraga latihan 'anak-anak dan remaja' generasi pemain bola dari warga setempat. Tersemat nama 'lapangan neraka' yang terdengar oleh saya sejak dulu, kemungkinan sejak dibuka 'dipakai' sebagai lapangan bola dll. Selentingan kabar-kabar bahwa sering terjadi 'kejatuhan' pemain-pemain bola dalam bermain.
Entah, karena 'rasa' kesal sehingga akhirnya pemain-pemain menyematkan nama 'lapangan neraka'. Di kekinian sekiranya hari raya tiba, selentingan kabar 'sematan' nama lapangan bola itu kembali terdengar. Namun jangan dianggap nama 'lapangan neraka' tertera, sebagai 'Lapangan Bola Rappokalling' tertera dan terlihat jelas di atas pintu gerbang lapangan. Adapun posisi, di samping (sebelah kiri) Kantor Lurah Rappokalling di Makassar.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Mohon Maaf Lahir & Batin.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Mohon Maaf Lahir & Batin.
Smile-Peace-Heart
Senin, 12 Juni 2017
Gelaran Makassar Bersastra
Makassar bersastra yang ke-3 telah berlangsung sukses pada Hari Minggu, tanggal 11 Juni 2017. Tempat acara digelar di depan Graha Media Mall Mtos di Kota Makassar. Mengangkat tema acara sebagai berikut 'ngabuburit' pembaca se-Kota Makassar. Bertepatan dengan momen Ramadhan kali ini, Makassar bersastra berhasil digelar dan berakhir sukses.
Dihadiri dari komonitas pecandu aksara sebagai pelaksana, panitia acara. Mengundang pula, beberapa komonitas literasi yang berada di Kota Makassar.
Acara ini dimeriahkan penampilan nyanyi, puisi dan drama komedi. Melengkapi gelaran Makassar bersastra disesi acara hiburan dari acara inti seperti Talk show materi kepenulisan serta bincang buku. Di Makassar bersastra 3, ini merupakan pula edisi launching buku oleh penerbit Makassar Indie Book (MIB). Tak ketinggalan saya pun hadir sebagai salah satu bagian dari acara bincang buku, Lenggak-Lenggok Dara. Karya kedua kolaborasi antologi cerpen setelah menjadi peserta Writing Camp yang pertama kali dilaksanakan oleh Komonitas Pecandu Aksara (PA).
Mulai kisaran pukul 3 sore hingga jelang magrib di Bulan Ramadhan tersebut, acara berlangsung. Sesi foto bersama mengakhiri acara ini sekaligus menjelang berbuka puasa. Panitia acara, pengisi acara dan peserta yang hadir bersatu padu. Berharap berbagi manfaat dalam dunia literasi demi kesinambungan baca dan tulis, 'panjang umur literasi'.
- Smile - Peace - Heart -
Dihadiri dari komonitas pecandu aksara sebagai pelaksana, panitia acara. Mengundang pula, beberapa komonitas literasi yang berada di Kota Makassar.
Acara ini dimeriahkan penampilan nyanyi, puisi dan drama komedi. Melengkapi gelaran Makassar bersastra disesi acara hiburan dari acara inti seperti Talk show materi kepenulisan serta bincang buku. Di Makassar bersastra 3, ini merupakan pula edisi launching buku oleh penerbit Makassar Indie Book (MIB). Tak ketinggalan saya pun hadir sebagai salah satu bagian dari acara bincang buku, Lenggak-Lenggok Dara. Karya kedua kolaborasi antologi cerpen setelah menjadi peserta Writing Camp yang pertama kali dilaksanakan oleh Komonitas Pecandu Aksara (PA).
Mulai kisaran pukul 3 sore hingga jelang magrib di Bulan Ramadhan tersebut, acara berlangsung. Sesi foto bersama mengakhiri acara ini sekaligus menjelang berbuka puasa. Panitia acara, pengisi acara dan peserta yang hadir bersatu padu. Berharap berbagi manfaat dalam dunia literasi demi kesinambungan baca dan tulis, 'panjang umur literasi'.
- Smile - Peace - Heart -
Sabtu, 03 Juni 2017
Bukber di masjid
Bersama keluarga maupun sendiri kerap saya lakoni bukber di masjid tahun-tahun belakangan ini. Seiring mudik atau pulang kampung saudara & kerabat ke Makassar dari tempat bermukim masing-masing. Anak-anak saudara & kerabat yang serta merta menjadi hiburan mengundang hiruk-pikuk. Bahkan kebersamaan tersebut akhirnya menciptakan keinginan saya kembali bukber di masjid. Apabila saudara dan kerabat tak mudik atau berhalangan pulang kampung, bersama Ibu pun bukber di masjid.
Menyisakan kesan berwisata religi bersama, sembari mengenalkan masjid ke anak-anak, generasi cilik-cilik yang ceria. Ikut serta 'belajar' menjalankan ibadah puasa untuk berbuka sekaligus melepas rindu terhadap kampung halaman tercinta. Bahkan terkadang anak-anak yang belum berpuasa pun ikut serta yang meminta 'perhatian' ekstra. Agar tak menjadi gangguan bagi yang menunaikan ibadah puasa
Ayo, ikut buka bersama 'bukber'' di masjid.
MARHABAN YA RAMADHAN 1438 H.
Jumat, 19 Mei 2017
Di hari pertama MIWF 2017
Bak menanti 'sesuatu' yang tak mengundang rasa kejenuhan, tak terasa momen tahunan MIWF 2017 menyapa. Kota Makassar kembali menunjukkan geliat-geliat aksi literasi melalui MIWF 2017, yang tak sepi dari pengunjung dari berbagai kalangan. Bertepatan dengan Hari Buku Nasional yang jatuh pada tanggal 17 Mei 2017, Rabu merupakan hari pertama event MIWF 2017. Adapun jadwal MIWF 2017 akan berlangsung hingga tanggal 20 Mei 2017, Sabtu besok.
Fort Rotterdam, lokasi yang sama di tahun 2016, lalu. MIWF 2017 ini pun kembali digelar di Fort Rotterdam. Menelisik jadwal-jadwal MIWF tak boleh terlewatkan sekiranya berminat berperan aktif menjadi salah satu pengunjung. Terkesan jadwal acara padat pun tak terlepas dari rangkaian MIWF setiap tahun. Bahkan ada kesan yang tersisa untuk sedikit 'memaksa' memilih acara yang akhirnya akan diikuti. Apabila terjadi 'tabrakan' jadwal yang sama antara dua atau tiga bahkan empat acara yang sesuai dengan harapan pengunjung.
Di hari pertama MIWF 2017 justru membawa saya pada 'rasa' di hari terakhir berkesempatan hadir. Pra event MIWF 2017 sepertinya juga memberi efek tersebut, diawali keriuhan rendahan keramaian. Selain itu kilas balik momen MIWF yang lalu saya ikuti berdasarkan pula pada minat dan kesesuaian jadwal. Ternyata di MIWF 2017 yang sedang berlangsung tersebut, menempatkan jadwal 'Ruang Bersama' yang salah satu pembicara Maman Suherman. Akhirnya saya pun tak melewatkan acara yang bertajuk 'Ruang Bersama'.
Ruang yang dibuka untuk membahas konflik dan perbedaan serta pelajaran yang dipetik melalui dialog terbuka dan jurnal reflektif. Bersama Yerry Wirawan,
Sofyan Syamsul, Eko Rusdianto, Maman Suherman di hari pertama. Siang ceria di Makassar International Writers Festival (MIWF)2017.
Me, Salam Keberagaman👌.
Fort Rotterdam, lokasi yang sama di tahun 2016, lalu. MIWF 2017 ini pun kembali digelar di Fort Rotterdam. Menelisik jadwal-jadwal MIWF tak boleh terlewatkan sekiranya berminat berperan aktif menjadi salah satu pengunjung. Terkesan jadwal acara padat pun tak terlepas dari rangkaian MIWF setiap tahun. Bahkan ada kesan yang tersisa untuk sedikit 'memaksa' memilih acara yang akhirnya akan diikuti. Apabila terjadi 'tabrakan' jadwal yang sama antara dua atau tiga bahkan empat acara yang sesuai dengan harapan pengunjung.
Di hari pertama MIWF 2017 justru membawa saya pada 'rasa' di hari terakhir berkesempatan hadir. Pra event MIWF 2017 sepertinya juga memberi efek tersebut, diawali keriuhan rendahan keramaian. Selain itu kilas balik momen MIWF yang lalu saya ikuti berdasarkan pula pada minat dan kesesuaian jadwal. Ternyata di MIWF 2017 yang sedang berlangsung tersebut, menempatkan jadwal 'Ruang Bersama' yang salah satu pembicara Maman Suherman. Akhirnya saya pun tak melewatkan acara yang bertajuk 'Ruang Bersama'.
Ruang yang dibuka untuk membahas konflik dan perbedaan serta pelajaran yang dipetik melalui dialog terbuka dan jurnal reflektif. Bersama Yerry Wirawan,
Sofyan Syamsul, Eko Rusdianto, Maman Suherman di hari pertama. Siang ceria di Makassar International Writers Festival (MIWF)2017.
Me, Salam Keberagaman👌.
Rabu, 03 Mei 2017
Panggil Aku, Kartini saja!
Panggil Aku Kartini Saja
Sepenggal kata yang terucap dari bibir seorang perempuan yang bergelar R.A. Kartini, panggil aku, Kartini saja!. Film Kartini karya besutan sutradara Hanung Bramantyo yang familiar mengangkat tema-tema dan tokoh-tokoh serta kisah-kisah kepahlawanan dalam filmnya. Di bulan April ini yang merupakan momen, bertepatan memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April, kembali mempersembahkan karya. Mulai tanggal 19 April 2017, secara serentak di bioskop tanah air segera memutar film tersebut.
Sepenggal kata yang terucap dari bibir seorang perempuan yang bergelar R.A. Kartini, panggil aku, Kartini saja!. Film Kartini karya besutan sutradara Hanung Bramantyo yang familiar mengangkat tema-tema dan tokoh-tokoh serta kisah-kisah kepahlawanan dalam filmnya. Di bulan April ini yang merupakan momen, bertepatan memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April, kembali mempersembahkan karya. Mulai tanggal 19 April 2017, secara serentak di bioskop tanah air segera memutar film tersebut.
'Sisi lain'
terangkat oleh sang sutradara dalam membuat film Kartini 'lebih ringan'
untuk dinikmati. Kesan 'berat' pada khalayak ramai terhadap film yang
bersentuhan dengan sejarah. Oleh Hanung Bramantyo seakan menunjukkan
keberhasilan dalam 'menangkap' kesan tersebut, terkhusus penikmat film.
Demikian melalui 'penggalian' lebih dalam akhirnya menemukan 'sisi lain'
dari Pahlawan Nasional Perempuan, R.A. Kartini yang berasal dari
Jepara. Panggil aku, Kartini saja!, tak banyak yang tahu bahwa seorang
R.A. Kartini terlahir dari seorang Ibu kandung yang bukan dari kaum
bangsawan atau ningrat di zaman dulu, itu.
Perjuangan
dalam mewujudkan emansipasi perempuan di kala itu, tak terlepas dari
latar belakang kehidupan keseharian beliau. Perubahan-perubahan yang
diinginkan oleh beliau pun berasal dari pandangan mata yang secara
langsung menyaksikan perbedaan perlakuan terhadap kaum bangsawan atau
ningrat dan kaum kebanyakan. Tak terkecuali beliau yang memperoleh
perlakuan khusus sebagai salah satu putri Bupati Jepara dengan gelar
R.A. (Raden Adjeng atau Raden Ayu). Sebagai perempuan Jawa, R.A. Kartini
pembawa perubahan dalam membuka pendidikan modern khususnya bagi
perempuan-perempuan Jawa.
Perjuangan
seorang R.A. Kartini memberi inspirasi bagi sutradara bahwa siapapun
itu membutuhkan 'seseorang' dalam mewujudkan harapan, keinginan dan
cita-cita. R.A. Kartini pun demikian yang oleh Hanung Bramantyo
menampilkan sosok-sosok yang berada dan hadir di sekeliling beliau.
Tersebut R.A. Kardinah dan R.A. Roekmini yang juga merupakan putri-putri
bupati Jepara. Tradisi 'pingitan' dengan segala 'keterbatasan' melekat
kuat yang diterapkan. Keseharian berada dalam kediaman berupa benteng
yang berdinding kokoh terlepas dari 'hirup-pikuk' kehidupan luar,
sekitar.
R.A. Kartini
yang 'terbelenggu' dalam tradisi yang akhirnya 'berontak' menemukan jati
diri bahkan menjadi diri sendiri. Ruang yang terbatas tak membawa
pemikiran terbatas bahkan 'menembus batas' pemikiran terkhusus bagi kaum
perempuan. Tak lain dan tak bukan oleh kemauan untuk belajar membaca
dan menulis akhirnya akrab di keseharian R.A. Kartini. Menemukan
cendekia-cendekia dari kaum perempuan melalui buku-buku. Motivasi dan
inspirasi tak serta merta hadir dari diri sendiri R.A. Kartini dalam
mengawali gerakan perubahan-perubahan. Panggil Aku, Kartini saja! Di
tengah mempertahankan garis 'keturunan' gelar kebangsawanan atau ningrat
dalam kehidupan terdekat keseharian R.A. Kartini.
Akhirnya
perjuangan R.A. Kartini tak pernah mati, tanggal kelahiran beliau
diperingati serial tahun sebagai Hari Kartini, 21 April. Terkhusus bagi
kaum-kaum perempuan setanah air tercinta semakin mengenal 'lebih dekat'
dengan sosok R.A. Kartini, cinta sejarah bangsa.
Sabtu, 01 April 2017
Jalan Menuju Tana Toraja, ke Lolai
Jalan Menuju Tana Toraja, ke Lolai
Siapa yang tak kenal Tana Toraja? Salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan yang sejak dulu menjadi destinasi wisata wisatawan-wisatawan. Telah tersohor di mancanegara pun hingga kini bahkan semakin terdengar 'gaung'nya. Lolai yang dikekinian dikenal dengan julukan 'negeri di atas awan'.
Tak terkecuali saya yang baru pertama kali ke Tana Toraja, Lolai yang seakan memanggil untuk dikunjungi. Trip Toraja - Palopo oleh Forester 95-Unhas mengadakan family gathering, saya pun ikut serta. Sebagai salah satu Forester 95 - Unhas, alumni kehutanan pada angkatan yang sama tak melewatkan momen ini.
Alhamdulillah, tanpa kendala yang berarti sukses berlangsung kumpul-kumpul sesama alumni. Meskipun tak disangkal dan tak dipungkiri tak terlepas dari riak-riak kecil, gelombang-gelombang yang mengganjal, namun akhirnya dapat teratasi.
Schedule pun tersusun yang direncanakan pada tanggal 25 Maret s/d 28 Maret 2017. Namun fleksible dalam realisasi trip Toraja - Palopo ini sebagai kegiatan refresing yang sekaligus ajang silaturahmi. Terlihat dari keikutsertaan forester-forester menyesuaikan schedule pribadi yang tak dapat tertinggal pun.
Demikian akhirnya, beberapa forester tidak 'full time' dalam mengikuti trip tersebut. Namun tak mengurangi rasa suka cita dalam menikmati perjalanan family gathering ini. Rempong-rempong menyenangkan melalui kebersamaan forester bersama-sama keluarga pula. Kesan yang tersisa dan terasa dalam melalui perjalanan dengan aksesibilitas pendakian dan penurunan menuju Lolai, Tana Toraja Utara.
Welcome.
Siapa yang tak kenal Tana Toraja? Salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan yang sejak dulu menjadi destinasi wisata wisatawan-wisatawan. Telah tersohor di mancanegara pun hingga kini bahkan semakin terdengar 'gaung'nya. Lolai yang dikekinian dikenal dengan julukan 'negeri di atas awan'.
Tak terkecuali saya yang baru pertama kali ke Tana Toraja, Lolai yang seakan memanggil untuk dikunjungi. Trip Toraja - Palopo oleh Forester 95-Unhas mengadakan family gathering, saya pun ikut serta. Sebagai salah satu Forester 95 - Unhas, alumni kehutanan pada angkatan yang sama tak melewatkan momen ini.
Alhamdulillah, tanpa kendala yang berarti sukses berlangsung kumpul-kumpul sesama alumni. Meskipun tak disangkal dan tak dipungkiri tak terlepas dari riak-riak kecil, gelombang-gelombang yang mengganjal, namun akhirnya dapat teratasi.
Schedule pun tersusun yang direncanakan pada tanggal 25 Maret s/d 28 Maret 2017. Namun fleksible dalam realisasi trip Toraja - Palopo ini sebagai kegiatan refresing yang sekaligus ajang silaturahmi. Terlihat dari keikutsertaan forester-forester menyesuaikan schedule pribadi yang tak dapat tertinggal pun.
Demikian akhirnya, beberapa forester tidak 'full time' dalam mengikuti trip tersebut. Namun tak mengurangi rasa suka cita dalam menikmati perjalanan family gathering ini. Rempong-rempong menyenangkan melalui kebersamaan forester bersama-sama keluarga pula. Kesan yang tersisa dan terasa dalam melalui perjalanan dengan aksesibilitas pendakian dan penurunan menuju Lolai, Tana Toraja Utara.
Welcome.
A
T
Langganan:
Postingan (Atom)
KEMBALI BERSUA, HEY! MANADO CITY
Menyaksikan Pasutri Gaje, menarik untuk tak melewatkan film Pasutri Gaje yang berlatar belakang cerita, kisah dan kehidupan sepasang abdi ne...
-
Taman Wisata Alam (TWA) Danau Matano, Sorowako Bumi Batara Guru Kali ke-2 berkunjung ke Bumi Batara Guru, Kabupaten Luwu Timur ya...
-
Nostalgia Air Terjun Parangloe Ide Menyeruak di Meja Makan Berawal dari kunjungan Dinas teman kuliahan silam, ke Makassar yang ak...

























































