Minggu, 20 September 2020

Pembinaan Pegawai Tahun 2018 Lingkup Balai Perhutanan Sosial & Kemitraan Lingkungan Wil.Sulawesi

     Pembinaan Pegawai Tahun 2018

Menjelang akhir tahun yang tak lama lagi, Kegiatan Pembinaan Pegawai Lingkup Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Sulawesi Tahun 2018 berlansung pada tanggal 28 November s/d 1 Desember 2018. Terdiri dari 65 Peserta, pembinaan pegawai pada UPT Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) yang beralamat di Bili-Bili Kabupaten Gowa ini, baik dari daerah/Kabupaten seperti dari Kabupaten Soppeng. Hadir dan berangkat ke Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara pada hari/tanggal, Rabu/28 November 2018.

Berada dalam ruang lingkup kerja yang sama bukan berarti tidak membutuhkan kembali wadah 'kebersamaan' yang bertujuan sebagai pembinaan pegawai yang 'memicu' motivasi dan etos kerja. Pembukaan Kegiatan dengan sambutan oleh Kepala Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Muchksin, S.Hut, M.Si yang diadakan di Sintesa Penisula Hotel Manado.  Prepare for meeting, Continue Meeting dan Done Meeting menjadi salah satu agenda kegiatan pada hari/tanggal Kamis/29 November 2018 di sela-sela agenda acara yang tersebut dalam Rundown kegiatan. 

Mengundang nara sumber setempat yang membawakan beberapa materi seperti  materi Motivasi dan Etos Kerja serta Revolusi Mental bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) khususnya. Selanjutnya kunjungan ke Taman di Sulawesi Utara, Bukit Doa Mahawu Tomohon Utara Kota Tomohon, Sulut. yang  merupakan tempat wisata alam dan Religi umat kristiani. Terdapat kawasan Amphiteather berupa tempat pertunjukan yang dilengkapi 'dudukan' yang terbuat dari beton, berbentuk setengah lingkaran dan bersusun-susun yang dipergunakan oleh Penyelenggara Acara  'Event Organizer'  untuk tempat permainan 'game' bagi peserta pembinaan yang bermanfaat  memupuk kekompakan dan  kejujuran dalam bekerja. 

Menyempatkan berkunjung ke Danau Tondano sebagai danau terluas di Manado Sulawesi Utara dan ke Danau Linouw, sebuah danau vulkanik yang terletak di luar Tomohon, dekat Manado yang menyajikan suasana romantic. Wisata Bahari pun 'tersaji' melalui arum jeram pada hari/tanggal, Jumat/30 November 2018, diikuti Peserta Pembinaan Pegawai Lingkup Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Sulawesi Tahun 2018, menyisakan kesan dan pesan 'Jika di Depan, Aral melintang dengan Jurang dan Arus, Jangan Berputar untuk Mengelilingi Bukit, Tetaplah Maju dan Berupaya Untuk Melewati Derasnya Arus, Hingga Mengoptimalkan Waktu yang Ada untuk Mencapai Tititk Koordinat yang ditentukan, ungkap Ibu Fitriani Kasim salah satu peserta Pembinaan Pegawai. Berharap, Semoga Membangkitkan Motivasi dan Etos Kerja, Semangat Kekompakan dan Kebersamaan.

Minggu, 02 Februari 2020

Lembah Bada Nan Eksotis

Lembah Bada

Mengenal Lembah bada

Lembah Bada atau Lembah Napu, demikian nama lembah yang terletak di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, lembah ini merupakan bagian dari Taman Nasional Lore Lindu  (TNLL) . Nah ... salah satu  Taman Nasional sebagai perlindungan hayati di Sulawesi Tengah. Terletak 60 KM Selatan Kota Palu, sebagian besar terdiri atas hutan pegunungan dan semi pegunungan (90%) dan sebagian kecil hutan dataran rendah (10%). Menarik pertama kali berkunjung ke Lembah Bada, tak nyana bahwa di sinilah posisi Patung Palindo. Bagaimana tidak? menyaksikan foto-foto kunjungan mereka yang pernah ke Patung Palindo tiadalah luput olehku. Namun akhirnya tanpa mempertanyakan posisi persisnya berada kecuali sebatas tahu berada di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Menurut  Wikipedia bahwa di Lembah Bada terdapat puluhan patung megalitik yang diperkirakan didirikan pada abad ke-14. Nah... Patung Palindo salah satu patung megalitik yang sering terkunjungi oleh wisatawan domestik maupun asing. O ya, perjalanan menuju Lembah Bada pun, tak sedikit menyisakan kesan, olehku, Ada apa? mungkin kata yang terlontar untuk menggambarkan perjalanan ini 'jalan  tak berujung'. 

                                 

                                                

Cita Rasa 

Rasa Perjalanan 'Gado-Gado'

Nah loh Demikian 'perasaan' yang hadir ketika menempuh, menyusuri aksesibilitas ke Lembah Bada. Berhenti dalam berkendara pun dilakoni, mobil 'mogok' di salah satu titik tikungan yang kesekian akan terlewati. Di pesisir jalan, sepanjang jalan pun tak akan ditemui pemukiman atau rumah-rumah penduduk bahkan warung-warung kaki lima atau lapak-lapak jualan tak kunjung terlihat. Sekiranya berkunjung kembali ke Lembah Bada salah satu persiapan logistik berupa makanan dan minuman jangan sampai terlupakan. Tak hanya sampai di situ, pendakian dan penurunan jalan berkelok yang dilalui seakan tak terhenti, seperti penggambaran saya dalam kata 'jalan tak berujung'. O..ya, demikian pun terjadi karena kemungkinan pertama kali untuk  berkunjung ke Lembah Bada Kabupaten Poso dalam rangka tugas, pertanyaan demi pertanyaan 'berkecamuk' dalam menikmati perjalanan dinas di akhir tahun 2019, ini. 

Adapun kondisi jalan beraspal namun tak luput pula ditemui jalan-jalan yang rusak yang berada di sisi gunung dan lembah yang terlewati. Aksesibilitas cukup rawan longsor dan terlihat dalam perjalanan yang mengundang kehati-hatian serta rasa was-was dan kalau boleh dikatakan 'ngeri' melalui perjalanan tersebut. Mengakibatkan rawan longsor yang disebabkan oleh penambangan batu-batu gunung yang berada pada sisi atau tepi jalan. 'Pemandangan kritis' yang akan terlihat di sepanjang gunung yang terdapat aktifitas penambangan. Terdapat tanda atau garis peringatan untuk berhati-hati pun terpasang pada jalan-jalan yang sudah 'terkikis' oleh longsoran yang terjadi di musim penghujan ini. Demikian ada pula yang luput dari signal/tanda 'hati-hati' sehingga kepiawaian sopir dalam berkendara sangat dibutuhkan. 

Sejenak melepas lelah dan penat, mobil pun perlu 'istirahat' pada cuaca yang cukup dingin dan sejuk ketika berada di sisi jalan yang masih agak berhutan 'padat pohon'. 'Peringatan dini' yang telat ditunjukkan mobil yang nyaris 'gagal' dalam menyelesaikan tugas membawa saya bersama team work ke Lembah Bada. Akhirnya tibalah 'jalan tak berujung', alangkah indah ujung dari perjalanan ke Lembah Bada. Desa, lokasi tugas yang berada di Lembah Bada terdapat pemandangan yang menyejukkan bahkan 'langka' menurut 'kasat mata" saya.  Kehidupan alami dan natural tersaji di depan mata, hamparan sawah, kolam buatan di sawah, teratai yang tak pernah pudar indahnya  serta gunung dan lembah  yang tampak mengitari desa. Menikmati panorama pagi dengan menyeruput kopi sebelum jadwal tugas berjalan.





 

Mencapai Tujuan

Alhasil penginapan tempat team work memberi akses yang dapat dengan puas menikmati keindahan tersebut. Selain itu terlihat nyata 'simbiosis mutualisme' antara Kerbau dan Burung Bangau yang terjadi dalam siklus kehidupan  di alam. O..ya, adaptasi kerbau berkubang pun sering kali terlihat,. itik-itik berenang di kolam Ikan buatan yang berada tak jauh dari pematang sawah. Keseruan memancing tak kalah mengundang usaha tak sia-sia bersabar agar umpan 'termakan'. Gelak tawa oleh suara-suara Itik di pagi hari bahkan membuka mata yang terlelap yang tak jarang terdengar pula 'tiruan suara' itik-itik oleh team work. Nah...gelak tawa tak terelak  selama team work berada di Lembah Bada, 3 lokasi desa yang terkunjungi dalam Sosialisasi Kegiatan Agroforestry Programme III,  yakni Tuare, Kageroa dan Tohimipi.  



Perihal Patung Palindo (sang penghibur), menurut wikipedia bahwa Watu Palindo dalam Bahasa Bada adalah sebuah patung megalitik setinggi 4,5 meter yang terletak di Lembah Bada Lore Selatan. Merupakan patung terbesar di daerah ini dan yang paling terkenal terletak di Sebelah Selatan dari Desa Kecil Sepe. Digambarkan berupa wajah ceria dan ramah, ukiran tubuh berbentuk oval, mata bulat dan hidung besar yang memanjang ke bawah. Pahatan mulut yang di dalam berbentuk sebuah senyuman melengkapi batuan megalitik ini. Kunjungan ke Patung Palindo  bersama team work yang melalui Padang rumput/ilalang (Savana). Bahkan megalitik tampak dari sela-sela Padang rumput /ilalang (Savana). Demikian beberapa sebaran megalitik dapat disaksikan secara kasat mata dari kendaraan  baik roda empat dan dua yang ada di sepanjang jalan pada hamparan Padang rumput/ilalang (savana).

                                   

                                                

                                                    
                                               

Selamat Menikmati                                              

Nah... sedikit terhenyak ketika menyaksikan pertama kali Patung Palindo, ni ... 'hanya patung', namun pasca 'lamat-lamat' menikmati nampaklah  'keeksotisan' di Cagar Budaya Taman Nasional Lore Lindu. O.. ya, sekedar kabar 'rada' ada yang pening juga he ... ketika berkunjung belum ada signal/jaringan telekomonikasi  namun sehari sebelum bertolak ke Makassar, akhirnya di Lembah Bada pemasangan Jaringan Ubiqu untuk akses komonikasi bagi daerah-daerah yang berada di balik lembah dan gunung. 





Dokumentasi Foto
Dokumetasi Foto : Pribadi/Team Work

                                                     


                                             








Senin, 30 Desember 2019

Nostalgia Air Terjun Parangloe

  Nostalgia Air Terjun Parangloe

Ide Menyeruak di Meja Makan

Berawal dari kunjungan Dinas teman kuliahan silam, ke Makassar  yang akhirnya  obrolan ringan disaat makan siang disalah satu cafe di bilangan jalan Hertasning Makassar berlanjut kesalah satu desa di Kabupaten Gowa, Bili-Bili. Meskipun demikian 'mendadak' namun akhirnya kunjungan emak-emak berlangsung lancar tanpa aral melintang dan kendala berarti. Bertepatan dengan musim hujan yang memungkinkan akhirnya terlihat 'kekhawatiran' untuk menempuh perjalanan roda empat dari Kota Makassar ke Kabupaten Gowa, Bili-Bili. Kesan yang tersisa di masing-masing benaklah yang akhirnya melahirkan kesamaan keinginan untuk 'kilas balik' lokasi kunjungan kegiatan kuliahan silam di tempat tersebut.   








Air Terjun Nan Elok

Tak banyak menyisakan ingatan, Air terjun nan elok tersebut dikarenakan karena kurun waktu yang telah lama pasca kuliahan lalu. Namun tidak menyurutkan untuk 'menggali' ingatan yang telah tertanam bahkan mengendap dalam benak kami masing-masing. Olehnya 'hanya' sekadar menyisakan nama Air Terjun Parangloe bahkan aksesibilitas menuju ke Air Terjun Parangloe tiada terekam sempurna, kini. Emak-Emak 'strong', akhirnya berjibaku dikeseharian tersebut tanpa rutinitas sejenak dari keluarga di hari libur untuk bersama-sama 'nostalgia'. Bertindak sebagai Driver ulung pun, si emak Isti yang sejak zaman kuliahan telah 'mahir ria' berkendara roda empat, Emak Pg.Bobbie sebagai 'tamu kehormatan' dalam rangka dinas yang berasal dari makassar pun yang berdomisili di jakarta, serta Emak Risma yang di antara kami berempat yang kurang lebih 'memiliki memori lebih' perihal kunjungan silam ini. Sedangkan aku dengan domisili kantor di Bili-Bili Kabupaten Gowa, alih-alih telah 'berkunjung kembali' hanya sekadar seletingan kabar bahwa aksisibilitas sudah cukup dekat dari kantor terungkapkan. 

               



                 

                 

                 

Memori Terkuak

Perjalanan yang terlupakan menuju ke Air Terjun Parangloe di Desa Borisallo Kabupaten Gowa namun akhirnya teringat dan terkenang kembali, pernah mengunjungi dan melewati kebersamaan yang menyimpan kenangan, akhirnya terulang kembali di waktu yang kini telah terlalui. Obrolan-obrolan ringan yang mengalir tanpa 'rekayasa' diantara sela-sela pertemuan 'mamak-mamak forester seangkatan', dari makan Bersama menuju sasaran hihihihihi…. Hati-Hati 'Papan bicara warning air bah'. Terkuak akhirnya bahwa kegiatan tahunan dimasa kuliahan sebagai mahasiswa/I kehutanan, khususnya dari kampus merah Unhas Makassar. Perjalanan menuju suatu tujuan yang terlupakan akhirnya terkuak dalam ingatan apabila berkunjung kembali menginjakkan kaki ke tujuan tersebut. Melangkahlah ke suatu tempat di mana pernah tertuju, perjalanan yang terlalui mungkin saja terlupakan namun setiba di tujuan akhirnya memori pun terbuka.
























Letak dan Posisi Air Terjun Parangloe

Air Terjun Parangloe merupakan Taman Wisata  Alam (TWA), Wisata Alam Air Terjun yang terletak di Desa Borisallo Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Berjarak sekitar 20 km dari Kota Makassar, aksesibilitas Jalan beraspal dengan jalur yang searah dengan menuju Kota Bunga Malino, namun cukup dekat dibandingkan dengan ke Kota Bunga Malino. Memasuki Kabupaten Gowa, Bili-Bili akan melewati jalur poros gerbang Bendungan Bili-Bili bendungan Bili-Bili dengan aksesibilitas yang cukup mudah terjangkau. Jalur lurus akan melalui jembatan yang pada salah satu sisi samping jembatan, Jalan menuju Desa Borisallo Kecamatan Parangloe. 

Tak ayal kini, 'pemandangan' tersaji berubah seiring dengan curah hujan yang semakin tinggi di musim penghujan bahkan dimusim kemarau, tidak memungkinkan lagi untuk berkemah di kaki air terjun. Fasilitas jembatan  pun kini 'seakan teronggok'. Meskipun masih berfungsi namun telah mengalami kerusakan sehingga 'nilai estetika' jembatan gantung di destinasi berkurang. Tak lagi terlihat, kurang menampakkan keindahan seperti di masa silam di sekitar tahun 1996-1997. Kehadiran 'papan bicara' warning air bah 'waspada air bah', salah satu isyarat untuk lebih berhati-hati dan waspada yang kami temui, kini namun tak mengurangi kunjungan bagi yang berminat menikmati keindahan Air Terjun Parangloe. Titik pandang keindahan yang hadir kini, berdiri gazebo-gazebo untuk istirahat sejenak apabila Lelah menuruni dan menaiki tangga,tapak-tapak, Jalan-Jalan yang permanen terdiri dari batu-batuan terpijak menuju lokasi turunan Air Terjun Parangloe.  





 

 




Dokumentasi Foto : Pribadi



        







































       






























KEMBALI BERSUA, HEY! MANADO CITY

Menyaksikan Pasutri Gaje, menarik untuk tak melewatkan film Pasutri Gaje yang berlatar belakang cerita, kisah dan kehidupan sepasang abdi ne...