Rabu, 05 Juni 2019

Ekowisata Mangrove Lantebung

Ekowisata Mangrove Lantebung

Liburan 'Mudik' Lebaran

Menjelang liburan mudik lebaran yang berbarengan dengan beberapa kerabat mudik ke kota Makassar. Nah ... saya sebagai yang berdiam di Kota Makassar ini, menyempatkan untuk menemani kerabat, mengisi liburan mudik kali ini. Salah satu yang masuk dalam agenda kunjungan, tersebut Ekowisata Mangrove Lantebung.




Sekadar kabar, Foto/Gambar 


Menarik, informasi yang diperoleh berdasarkan foto-foto kerabat yang pernah berkunjung ke lokasi tersebut, bahwa terletak di Kota Makassar, pinggiran tol. Termasuk menyaksikan sekilas dan sejenak dokumentasi  foto-foto pribadi beberapa teman yang pernah berkunjung. Namun demikian, saya  belum pernah menginjakkan kaki ke lokasi  Hutan Mangrove yang telah 'tersulap' menjadi 'Ekowisata Mangrove'. Tersisa kekaguman tanpa kata yang terucap sampai akhirnya jiwa Rimbawan/ti 'tersentil' yang terpanggil  segera untuk menengok, melihat bahkan berkeinginan untuk 'turun' menanam bibit Mangrove. Bagaimana tidak!? Kerinduan akan aktifitas kegiatan penanaman sampai kini hadir pada diri. Nah, sejenak kilas balik  hanya sekedar mendengar kabar pun perihal pertumbuhan. dan perkembangan Mangrove yang  'berhasil'  di lokasi pesisir pantai di  salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat di masa silam, saya pun happy'.  



         

Letak dan Posisi Ekowisata Mangrove Lantebung

Kembali ke posisi Ekowisata Mangrove Lantebung yang berada di Kampung Lantebung Kelurahan Bira Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.
Aksesibilitas cukup terjangkau melalui kendaraan roda dua dan roda empat baik kendaraan pribadi maupun umum.
Nah.. kesan dan pesan yang 'tersaji' di Ekowisata Mangrove  Lantebung cukup membuat 'baper', percaya atau tidak?!Segera berkunjung! Ayo intip, beberapa foto kunjungan ini, 'Family Time' plus 'pengobat rindu' akan Hutan Mangrove bagi Rimbawan/ti. Terima Kasih.



Dookumentasi Foto : Pribadi







Selasa, 07 Mei 2019

Sungai Tamborasi di Pantai Tamborasi (Beach Tamborasi), Kolaka Sulawesi Tenggara



 Sungai Tamborasi di Pantai Tamborasi (Beach Tamborasi), 

Kolaka Sulawesi Tenggara

Kilas Balik, ke Kolaka

Kilas balik, ketika bertugas di Kabupaten Kolaka Utara dengan ibukota Kabupaten  Lasusua. Oleh karena pembaca sempat menyimak tulisan perihal Jembatan Gantung Masalili di Kabupaten Muna dan segera menyarankan untuk menuliskan pula perihal Pantai Tamborasi (Beach Tamborasi). Menarik, akhirnya 'meminta' untuk mengulas perihal 'sungai terpendek' yang berada di Pantai Tamborasi tersebut. Nah... akhirnya kilas balik kembali ketika berkunjung ke Pantai Tamborasi (Beach Tamborasi), entah terbersit 'menyimpan' suka cita perjalanan ke Kabupaten Kolaka Utara, Lasusua yang melalui jalur perjalanan ke Pantai Tamborasi (Beach Tamborasi). Namun akhirnya 'disentil' untuk menuliskan perihal 'sungai terpendek' yang tersebut pula sebagai salah satu sungai terpendek kedua di dunia setelah Sungai Reprua yang ada di Georgia, Panjang 18 meter ("http: newswantara.com/").

Letak dan Posisi Sungai Tamborasi 

Berada di Desa Tamborasi, Kecamatan Wolo Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Sungai dengan Panjang 20 meter dan lebar 15 meter, dengan hulu dan hilir berada di dalam  satu tempat yang sama. Hulu hanya berjarak 20 meter dari hilir sungai ini berhubungan langsung, bermuara  dengan laut, Pantai Tamborasi. Sungai Tamborasi, berbeda dan berkesan seperti sebuah danau, tetapi disebutkan bahwa aliran air yang megalir membuktikan bahwa itu adalah sungai. (http:gocelebes.com). Terletak pada garis bibir Pantai Tamborasi, sehingga akhirnya menikmati dua destinasi dalam sekali kunjungan, berkunjung ke Pantai Tamborasi yang ditandai dengan tulisan Beach Tamborasi yang terbuat dari 'beton' berbentuk huruf selanjuntya menyusuri Jalan setapak di pesisir pantai Tamborasi dengan suguhan gazebo-gazebo sebagai tempat istirahat dan santai sejenak menikmati pantai yang akhirnya di penghujung Jalan setapak tersebut akan menemui sungai Tamborasi .Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri menemukan sungai terpendek, di negeri tercinta terdapat pula, sungai terpendek.
   








Enggan tak mampir 

Dokumentasi foto-foto berikut bersama team work kala itu, menunjukkan suasana Pantai Tamborasi, selanjutnya sejenak turun menikmati air sungai terpendek, Sungai Tamborasi yang akhirnya menunjukkan kejernihan dan warna airnya. Tergoda untuk berenang namun apa nian waktu team work bekerja dalam tugas 'mengejar' dan tak ayal untuk diabaikan. Meskipun demikian menyisakan kesan yang mendalam untuk dapat memadu-padankan pekerjaan dan menikmati alam panorama yang indah yang tak ingin terlewatkan. Ayo, Tamborasi Beach memanggil kembali !

 









Dokumentasi Foto :Pribadi










Senin, 15 April 2019

Taman Wisata Alam (TWA) Danau Matano, Sorowako

  Taman Wisata Alam (TWA) Danau Matano, Sorowako

Bumi Batara Guru


Kali ke-2 berkunjung ke Bumi Batara Guru, Kabupaten Luwu Timur  yang merupakan salah satu daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia yang berasal dari pemekaran Kabupaten Luwu Utara. Kabupaten Luwu Timur dikenal dengan julukan Bumi Batara Guru dengan Ibukota Kabupaten Luwu Timur adalah Malili yang terletak di ujung Utara Teluk Bone.
Nah ... pernah mendengar atau bahkan berkunjung  ke Sorowako ? seperti saya yang sebelumnya 'hanya'  pernah mendengar namun akhirnya berkunjung ke Sorowako, nah... Sorowako, salah satu Desa yang berada di Kecamatan Nuha Kab. Luwu Timur.
Selain itu ketika tersebut nama tambang nikel PT. INCO yang berubah nama menjadi PT. Vale, tak dipungkiri sudah menjadi pengetahuan bersama perihal keberadaan tambang nikel di Sorowako sebagai Sumber Daya Alam Tanah Air Indonesia, khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan.
Melepas penat di sela-sela jeda tugas negara tercinta dari BPSKL Wil. Sulawesi yang cukup mengundang rasa terik, nah ... keseharian cuaca Kab. Luwu Timur  cukup panas namun demikian tidak menyurutkan 'team work'  untuk sambil menikmati panorama dan keindahan Bumi Batara Guru khususnya ke Taman Wisata Alam (TWA) Danau Matano, Sorowako. 
Jarak tempuh antara Kota Makassar dengan Kab. Luwu Timur (Malili) sekitar 565 KM dengan menggunakan mobil pribadi ataupun mobil Bus Trans Sulawesi. Saya beserta team work seperti pada umumnya dengan mobil Bus
Trans Sulawesi, jadwal berangkat dari Kota Makassar setelah waktu Magrib dan tiba pada dini hari, esoknya. Menikmati perjalanan pada malam hari yang tidak memungkinkan untuk menikmati setiap kota/kabupaten yang terlewati dengan mengisi waktu perjalanan dengan beristirahat, tertidur.
Menempuh perjalanan pada malam hari pun, tak memungkinkan untuk lebih sering singgah atau mampir tanpa kepentingan dan keperluan yang mendesak 'urgent'. Bagaimana tidak? Penumpang bus cukup tertidur pulas dan jarang yang terjaga namun beberapa terjaga untuk mengisi 'kekosongan' perut pada malam hari, suntuk yang berada dalam kisaran pukul 22.00 - 23.00 WITA.
O,ya … sejenak membuka cerita ketika pertama kali berkunjung, nah … sopir pun tak menutup kemungkinan untuk inisiatif berhenti di waktu-waktu shalat tiba selain itu sekiranya penumpang berkeinginan 'buang air'. 
Perjalanan ini, melalui beberapa Kabupaten di Sulawesi Selatan,  antara lain : Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Pare-Pare, Sidrap, Wajo, Luwu Utara dan Kota Palopo.  Team work menuju Sorowako melalui Towuti, sebuah Kecamatan di Kabupaten Luwu Timur yang terletak di Sebelah Timur Ibukota Kabupaten Luwu Timur, berbatasan dengan Kecamatan Nuha di sebelah Utara.
Wilayah Kecamatan Towuti adalah daerah yang seluruh desanya  merupakan wilayah bukan pantai dengan topografi wilayah sebagian besar merupakan daerah datar. Terdapat 4 danau di Kecamatan Towuti, danau terluas adalah Danau Towuti dengan luas 585 km2. Nah... salah satu yang menarik perhatian saya ketika berada di Bumi Batara Guru ini bahwa titik dimana berpijak berada diantara-antara danau atau diapit danau-danau tempat bermukim, ini.
Kearifan local pun tercipta untuk menjaga kelestarian dengan menjaga danau-danau alami termasuk danau buatan sebagai penyangga air/sumber air utama bagi pemukim, Nah…!. Selain itu berbarengan dengan kawasan hutan yang berada di pesisir danau alami dan danau buatan tetap terjaga kelestarian sebagai area daya serapan air. 
Memasuki Desa Sorowako disuguhi perjalanan yang melalui PT. Vale, perusahaan tambang dan pengelolaan nikel dengan jalan yang menyuguhkan pemandangan yang indah selain itu pemukiman yang padat serta perumahan-perumahan PT.Vale.
Hingga akhirnya tiba di Taman Wisata Alam (TWA) Danau Matano yang ditandai dengan papan nama danau tersebut oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai Kawasan Hutan Konservasi, perlindungan system penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta ekosistem lainnya, pemanfaatan secara lestari sumber daya alam dan ekosistemnya. Mari Lindungi dan Jaga Kelestariannya (BKSDA Sul-Sel TA. 2017). 
Selain itu pun terdapat papan nama oleh  PT.Vale yang menyebutkan Pantai Ide (Ide Beach) yang dilengkapi PERINGATAN keselamatan Pantai serta telepon bantuan darurat (Emergency Call) Vale Rescue.    Danau Matano memiliki kedalaman 600 meter dan merupakan danau terdalam di Asia Tenggara dan terdalam kedelapan di dunia. Sedangkan Pantai Ide ini sumber airnya berasal dari Danau Matano, sehingga tak menemukan aroma air laut dan pasir putih. Suasana ketika berkunjung cukup ramai yang menjadi 'spot' atau titik-titik utama berupa beberapa titian/jembatan-jembatan dermaga yang dilengkapi dengan fasilitas berenang bagi anak-anak hingga dewasa bahkan 'bule' pun hadir untuk berenang. Destinasi Wisata Alam Danau (TWA) Matano dan Pantai Ide (Beach Ide) merupakan destinasi wisata favorit bagi pemukim di Kab. Luwu Timur  terkhusus di Sorawako  serta sekitar. Danau Matano, memanggil … ayo!


Dokumentasi Foto/Video : Pribadi/Team Work

Sabtu, 09 Februari 2019

Meniti Langkah Jembatan Gantung Puncak Masalili Muna



Meniti Langkah Jembatan Gantung 

Puncak Masalili Muna

Muna Oh... Muna

Pertama kali menginjakkan kaki di Kota Raha Kabupaten Muna sebagai lokasi tugas perdana memasuki tahun 2019. Meskipun pertama kali ke Kota Raha bukan berarti 'asing' nama Kota tersebut. Kota Raha sebagai ibukota Kabupaten Muna di Provinsi Sulawesi Tenggara 'sefamiliar'beberapa nama-nama Kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara, seperti Kab.Kolaka/Kolaka Timur dan Kolaka Utara, Kab. Konawe, Konawe Selatan dan Konawe Utara,Kab. Buton, Buton Tengah, Buton Selatan dan Buton Utara,Kab.Bombana, Kab. Bau-Bau serta Kab. Wakatobi. 

Temu Kesan

'Sesuatu' yang menarik saya temui di Kota Raha Kabupaten Muna, selain memasuki Bandara Udara Sugimanuru yang berada di wilayah administrasi Kab.Muna Barat yang memberi kesan 'sepi'. Infrastruktur jalan-jalan yang cukup lebar/luas yang meninggalkan kesan 'ketertinggalan' atau bahkan terjadi 'kesalahan' perencanaan. Lebih lanjut terlihat jalan-jalan sebagai aksesibilitas yang telah terbuka berbentuk aspal namun seakan 'tertimbun' tanah-tanah merah/liat yang cukup hampir menutupi aspal-aspal yang 'tersisa'. Selain itu lalu-lalang tak berkesan ramai yang merupakan jalur utama transportasi darat dari Bandara Sugimanuru. 

Jembatan Gantung Puncak Masalili

Nah...perjalanan ke Kota Raha Kab. Muna yang membawa diri meniti Jembatan Gantung di Puncak Masalili sesuai nama lokasi puncak yang berada di Desa Masalili Kab. Muna. Jejak kaki ke Puncak Masalili Muna, bukan karena sebab menginjakkan kaki di titian/jembatan gantung Puncak Masalili. Liputan Trip My Adventure oleh Trans TV Penyampaian dari Kades Masalili La ode Rasali yang memberitahukan perihal peliputan oleh Trans TV beberapa waktu lalu.Beberapa upload video oleh mereka yang pernah berkunjung  dan disaksikan melalui YouTube. Nah...di kota ..yang memberi kesan sepi...bahkan sedikit komentar penghuni kota pun tak menyangka bahwa salah satu objek wisata di kota Raha kabupaten Muna telah menarik peliput dari salah satu stasiun tv di tanah air yang sebagai ajang bahkan sarana promosi yang efektif.

 
Buka Album foto/video

Nah...beberapa foto dari dokumentasi pribadi yang menunjukkan kunjungan sejenak ke Puncak Masalili serta video oleh Kepala Desa Masalili, La ode Rasali ketika Trans TV liputan My Trip My Adventure .Waktu tempuh kurang lebih 40 menit dari pusat kota Raha sebagai Ibukota Kab. Muna, berbarengan tugas negara tercinta sembari menikmati kesejukan sejenak. Salam 5 Jari...Perhutanan Sosial. Rakyat Sejahtera Hutan Lestari


Dokumentasi Foto/Video : Pribadi/Team Work
\
 

Jumat, 11 Januari 2019

Menengok Keluarga Cemara,

 Menengok Keluarga Cemara,

Menulis 'sekilas' cerita film

Kembali terbersit keinginan untuk menuangkan 'sekilas' cerita film, Keluarga Cemara. Sebelumnya, sepertinya saya ingin mengungkapkan pengakuan bahwa sinetron Keluarga Cemara bukan sinetron favorit saya. Namun akhirnya justru menjadi sebab yang melatarbelakangi rasa penasaran perihal film keluarga Cemara yang sementara edar di bioskop setempat.

Tema Keluarga

Mengusung tema keluarga yang sudah 'terlihat' (baca:terbaca) jelas pada judul film Keluarga Cemara. Nah...pemeran emak (Nirina Zubir), selanjutnya tokoh Abah, Euis dan Ara. Sekiranya cermat dalam mengamati salah satu nama pemeran tokoh di atas yang telah tersebut, gambaran judul film. Keluarga Cemara, Ara sebagai nama tokoh anak ke-2 perempuan dalam dialog antara Abah dan Ara, bahwa nama Ara diambil dari nama Pohon Cemara, Ara. Diawali sejenak dengan 'kehidupan mewah' keluarga Abah dan Emak. 

Konflik, Bangkrut

Hanya sejenak terlihat dan akhirnya 'lenyap' seketika oleh karena bangkrut yang disebabkan kerabat, ipar Abah sendiri. Nah.. bagaimana akhirnya keluarga ini menghadapi kehidupan yang 'pas-pasan', cukup mengundang rasa empati penonton dengan meneteskan air mata. Cukup menarik 'background' rumah keluarga Cemara pasca pindah dari Kota Jakarta ke desa di Jawa Barat yang menghadirkan konflik, menetap atau balik kembali ke Jakarta. 

Sejuk dan Damai

Suasana pepohonan lebat ditiup angin, bunyi sayup-sayup serangga terdengar di sekitar seakan mengajak untuk senantiasa menciptakan kedamaian dan ketentraman di hati dan sekitar. Konflik-konflik tercipta yang diselingi canda-tawa dalam film Keluarga Cemara membawa penonton 'hanyut' dalam menikmatinya. Tangisan dan Tertawa terdengar yang diiringi nuansa-nuansa musik yang berbeda dihadirkan bahkan nuansa musik ketegangan pun tak luput dalam film ini, antara lain ketika Abah mengalami kecelakaan kerja. 

Penonton Semua Umur 

Film ini tersaji untuk semua umur dan menghadirkan konflik-konflik 'ala remaja' pada pemeran Euis sebagai anak Pertama Abah yang memasuki usia remaja. Rasa penyesalan yang amat dalam bagi Abah terhadap keluarga 'menggiring' penonton pada 'kesedihan' yang berkepanjangan namun akhirnya diselingi dialog singkat perihal tanggung jawab Abah dalam Keluarga Cemara akhirnya menemui 'titik temu' untuk tidak menyalahkan diri sendiri berlarut-larut bagi Abah.

Petik Hikmah Film

Ditengah-tengah kondisi kehidupan Keluarga Cemara yang berusaha untuk keluar dalam kesulitan, Abah dianugrahi anak ke-3 sebagai adik Ara. Demikian saya 'menangkap' bahwa baik dalam keadaan susah dan senang bagi sebuah keluarga atau rumah tangga seyogyanya saling bantu-membantu, bahu-membahu, bekerja sama dalam menghadapi kehidupan yang dijalani. Selanjutnya Keluarga Cemara dipengujung film memutuskan untuk menetap di desa Jawa Barat, rumah warisan keluarga Abah tanpa pindah ke Jakarta. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 15 Desember 2018

Coching Clinic Verifikasi Teknis Perhutanan Sosial Tahap III Provinsi Sulawesi Tenggara

 Coching Clinic Verifikasi Teknis Perhutanan Sosial Tahap III Provinsi Sulawesi Tenggara

Pembukaan Coching Clinic

Mengawali kegiatan Coching Clinic dalam rangka Verifikasi Teknis Perhutanan Sosial Tahap III Sultra, Pembukaan acara kegiatan oleh Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Perhutanan Sosial dari Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara. Peserta terdiri dari Team Vertek Tahap III Sultra, termasuk anggota Kelompok Kerja (Pokja), beberapa hadir dari anggota yang kurang lebih 50 anggota.

Plaza Inn Kendari


Pertemuan Coching Clinic berlansung di Plaza Inn Kendari pada hari Selasa/11 Desember 2018 pada  malam hari dimulai pukul 18.30 Wita. Provinsi Sulawesi Tenggara dengan target  32 ribu Ha dan yang telah diverifikasi teknis kurang lebih luasan dikisaran 50 - 60 ribu Ha, tersebut 58 Ha dan pada perencanaan Verifikasi Teknis selanjutnya pada luasan 16 ribu Ha, sehingga telah mencapai 74 H. Realiasasi atau pencapaian dianggap telah maksimal, termasuk usulan baru terdiri dari 40 Kelompok Tani Hutan untuk difasilitasi

Pengantar Coching Clinic 


Selanjutnya pengantar Coching Clinic berupa perihal Berita Acara (BA) dengan menambahkan keterangan gender 'issu gender' sekaligus penambahan tenaga dari KPH dan pendamping. Mengawali Verifikasi teknis pada usulan pasca tanpa IUP yang berita acara merupakan dasar penerbitan IUP termasuk daftar nama Kelompok Tani Hutan yang terangkum dalam SHP serta peta lokasi usulan skema perhutanan sosial.

Sambutan


Pernyataan dari pihak Pejabat Pembuat Komitmen bahwa melayani 60 divisi dengan pemahaman anggaran terkait SPJ serta penyampaian terkait pengajuan usulan Fasilitasi Perhutanan  Sosial untuk dalam perencanaan tahun depan, 2019. Sedangkan pemantapan team vertek oleh T2PS, percepatan perhutanan sosial melalui Surat Tugas terkait pelaksanaan vertek serta jumlah personil atau tenaga yang akan melaksanakan kegiatan tersebut. Menambahkan kembali  agar 'update' tingkat nasional bahwa target luasan perhutanan sosial target nasional pada kisaran 2..2 juta ha dari rencana 2,5 juta Ha sampai pada tahap akhir bulan Desember tahun 2018.
  

Perhutanan Sosial 

Perhutanan Nasional merupakan program strategis nasional dengan luasan 12,7 juta Ha yang.dalam realisasinya 'meminta' pengurangan luasan. Melalui 5 skema perhutanan sosial mewujudkan hutan lestari , rakyat sejahtera. Diakhir acara kegiatan pembukaan kegiatan verifikasi  teknis menghasilkan rumusan akhir. Sedangkan hasil verifikasi teknis perhutanan sosial  dengan tembusan pada 5 (lima)  pihak-pihak yang terkait dalam proses teknis. Salam 5 jari, BPSKL Wil. Sulawesi.








Dokumentasi : BPSKL Wil. Sulawesi 

Senin, 12 November 2018

Forester Festival 2018

FORESTER FESTIVAL IKA KEHUTANAN UNHAS

Forester Festival

         Telah berlangsung ajang Forester Festival untuk yang pertama kali, yang direncanakan akan berlangsung setiap tahun atau sebagai agenda tahunan IKA Kehutanan Unhas. Forester Festival 2018 - Reuni Tahunan IKA Kehutanan Unhas, berlangsung pada tanggal 9 – 11 November 2018, baru-baru ini. Kegiatan antara lain Seminar Alumni ‘Peran Rimbawan Dalam Pembangunan Kehutanan Indonesia’,  Ramah Tamah IKA Kehutanan Unhas,   Forester Back To Campus (Fun Walk, Bedah Buku, Bazaar dan Panggung Hiburan), Forester Camp (Gala Dinner dan Forester Night, Senam Pagi, Cross Country, Baksos dan Outbound)





Pagelaran Forester Festival 2018
 Ada 3 lokasi pagelaran Forester Festival 2018, Lokasi I, di Rujab Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 9 November 2018. Lokasi II, di Kampus Unhas Tamalanrea Makassar atau yang lebih dikenal dengan nama Kampus Merah pada tanggal 10 November 2018. Selanjutnya Lokasi III, di Hutan Pendidikan Unhas Bengo-Bengo Kab. Maros Provinsi Sulawesi Selatan. Forester Festival 2018 ini, dihadiri oleh  Prof. Dr. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr, IPU sebagai Ketua Umum IKA Kehutanan Unhas.
Forester Festival adalah ajang kreatif yang diinisiasi dengan brilliant!!!Momentum pertemuan dan silaturahim alumni IKA Kehutanan Unhas dan civitas akademika Fahutan Unhas, menjawab panjang penantian dan dahaga rindu para alumni terhadap sahabat, kerabat, bahkan dengan fakultas serta semua sudut ruang kampusnya … so don’t miss, itu jadilah  bagian dari sejarah pelaksanaan FF Pertama… juga Bagian dari kebangkitan persatuan dan  gelora KORPS Rimbawan Unhas… COS We Are Forester, ungkap Jay Syamsu Rijal yang juga sebagai penulis buku Badik Berbunga di Negeri Para Samurai di kegiatan Bedah Buku pada Forester Festival 2018. Berbarengan dikesempatan ini pula bedah buku Kilimanjaro, Menapak Atap Afrika oleh Rahmat Hadi Forester Angkatan 1990. Salam Rimba👌.





Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi/Panitia Pelaksana FF 2018






KEMBALI BERSUA, HEY! MANADO CITY

Menyaksikan Pasutri Gaje, menarik untuk tak melewatkan film Pasutri Gaje yang berlatar belakang cerita, kisah dan kehidupan sepasang abdi ne...